Tangerang — Suasana khidmat dan penuh penghayatan menyelimuti pelaksanaan Ibadah Jumat Agung di Gereja Crucio, Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang, pada Jumat (3/4/2026). Kegiatan ini terselenggara dengan menghadirkan 6 (enam) orang tim pelayanan yang memberikan pelayanan rohani bagi warga binaan.
Ibadah yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut diikuti oleh 37 warga binaan beragama Nasrani dan 1 orang pegawai beragama Nasrani, yang mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh antusias dan kekhusyukan. Kegiatan ini juga diawasi oleh Kasubsi Bimkemaswat, Staf Bimpas, Staf KPLP, serta peserta magang, sehingga pelaksanaan berjalan tertib, aman, dan kondusif.
Mengangkat perenungan dari Lukas 23 tentang kisah penyaliban Yesus Kristus, ibadah ini menjadi momentum refleksi mendalam atas pengorbanan dan kasih Tuhan bagi umat manusia.
Firman Tuhan disampaikan oleh Ev. Selvi Loni Lulu selaku pembawa firman, yang mengajak seluruh jemaat untuk memaknai Jumat Agung sebagai kesempatan memperbarui iman, memperteguh pengharapan, serta menumbuhkan semangat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan. Dalam khotbahnya, ditekankan bahwa kasih dan pengampunan Tuhan senantiasa terbuka bagi siapa saja yang mau bertobat dan berubah.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ibadah Jalan Salib yang dimulai pada pukul 12.30 WIB.
Dalam kegiatan ini, warga binaan bersama tim pelayanan mengelilingi area brandgang Lapas yang telah dibagi menjadi 14 titik perhentian doa, sebagai simbol perjalanan penderitaan Yesus Kristus menuju penyaliban. Prosesi berlangsung dengan penuh penghayatan dan ketertiban, serta diawasi oleh Petugas Piket Libur, Staf Bimpas, Staf KPLP, dan Peserta Magang, guna memastikan keamanan dan kelancaran kegiatan. Selain pelayanan rohani, kegiatan ini juga disertai dengan pemberian bingkisan dan konsumsi bagi warga binaan sebagai bentuk kepedulian dan kasih, sehingga menambah sukacita dalam peringatan Jumat Agung tersebut.
Pelaksanaan seluruh rangkaian ibadah berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh makna. Diharapkan melalui kegiatan ini, warga binaan dapat semakin dikuatkan secara spiritual serta memiliki semangat baru dalam menjalani masa pembinaan di dalam Lapas.
Kegiatan keagamaan seperti ini menjadi salah satu bentuk pembinaan kepribadian yang terus dioptimalkan oleh Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang, sebagai upaya membangun warga binaan yang lebih baik, beriman, dan siap kembali ke masyarakat.


