Ciptakan Lingkungan Sekolah Sehat Mental, SMAN 14 Tangerang Gelar Penyuluhan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis


KOTA TANGERANG – Menjadikan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga sehat dan aman secara mental menjadi prioritas utama SMAN 14 Tangerang. Langkah nyata ini diwujudkan melalui kerja sama dengan Puskesmas Batusari dalam menyelenggarakan kegiatan penyuluhan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Kegiatan yang ditujukan bagi seluruh guru dan siswa ini berlangsung di lingkungan sekolah yang beralamat di Jalan Darussalam II, Kelurahan Batusari, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, pada Kamis (7/5/2026).

Program ini disiapkan khusus untuk membekali seluruh warga sekolah, baik tenaga pendidik maupun para siswa, agar mampu bertindak sebagai garda terdepan dalam mendeteksi gejala awal gangguan emosional serta mampu memberikan respon yang tepat saat ada anggota sekolah yang mengalami tekanan psikologis. Dengan bekal pengetahuan ini, diharapkan masalah kesehatan mental dapat segera teridentifikasi dan ditangani sedini mungkin sebelum berkembang menjadi permasalahan yang lebih serius.

Kepala Sekolah SMAN 14 Tangerang, Ade Gunawan, menyambut baik dan sangat mendukung penuh kegiatan edukasi ini. Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan mental siswa merupakan hal yang sama pentingnya dengan pencapaian prestasi akademik. Ia menyadari bahwa beban belajar, tuntutan nilai, hingga dinamika pergaulan di sekolah kerap kali menjadi pemicu stres yang jika tidak dikelola dengan baik dapat berdampak buruk bagi kesehatan jiwa para siswa.

“Bagi kami di SMAN 14 Tangerang, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai rapor atau banyaknya prestasi yang diraih. Lebih dari itu, kami ingin memastikan bahwa setiap siswa yang belajar di sini tumbuh dan berkembang dalam kondisi yang sehat, bahagia, dan tenang secara batin. Kesehatan mental adalah fondasi utama agar siswa dapat berpikir jernih, berkonsentrasi, dan menggali potensi diri secara maksimal. Kami tidak ingin ada siswa yang merasa tertekan, cemas berlebihan, atau merasa kesulitan sendirian di sekolah ini,” ujar Ade Gunawan.

Ia menambahkan, pihaknya berkomitmen untuk menjadikan SMAN 14 Tangerang sebagai sekolah yang ramah dan peduli terhadap kesehatan mental. Oleh karena itu, pembekalan kepada para guru dan siswa mengenai cara mengenali serta menanggapi masalah psikologis menjadi langkah yang sangat penting dan strategis.

“Kami ingin membangun budaya saling peduli di lingkungan sekolah. Para guru kami bekali agar peka terhadap perubahan perilaku siswa dan tahu cara meresponsnya dengan tepat. Begitu juga dengan para siswa, kami harap mereka paham bahwa kesehatan mental itu penting, dan tidak ada salahnya untuk saling mendukung atau meminta bantuan saat merasa berat. Kami ingin sekolah ini menjadi tempat yang nyaman, tempat di mana setiap orang merasa diterima dan diperhatikan,” tambahnya.

Sementara itu, narasumber dari Puskesmas Batusari, dr. Mutiara Citraristi, menjelaskan bahwa pertolongan pertama pada luka psikologis sejatinya tidak selalu harus dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional. Kepedulian serta kehadiran orang-orang terdekat di lingkungan sekitar justru sering kali menjadi langkah awal yang paling efektif dan berarti.

Menurutnya, lingkungan sekolah adalah salah satu tempat yang cukup rentan bagi remaja untuk mengalami tekanan psikologis. Hal ini bisa dipicu oleh berbagai hal, mulai dari perubahan suasana saat kenaikan jenjang kelas, proses adaptasi lingkungan baru, hingga beban tuntutan akademik yang cukup tinggi.

“Luka psikologis itu tidak selalu disebabkan oleh peristiwa traumatis yang besar. Terkadang, perubahan lingkungan yang cukup drastis atau tekanan sehari-hari pun sudah cukup untuk menimbulkan beban pikiran yang berat. Di sinilah peran P3LP sangat dibutuhkan. Tujuannya bukan untuk mendiagnosis penyakit atau memberikan pengobatan medis, melainkan sebagai pertolongan awal agar rasa sakit atau tekanan yang dirasakan tidak semakin parah dan mendalam,” jelas dr. Mutiara.

Ia juga menekankan bahwa dalam menangani masalah psikologis, kemampuan mendengarkan dengan benar adalah kunci utamanya. Mendengarkan dalam konteks ini bukan sekadar mendengar suara, melainkan hadir sepenuh hati, memberi perhatian, dan mendengarkan tanpa menghakimi apa yang disampaikan.

“Sering kali, masyarakat merasa sungkan atau malu untuk berkonsultasi ke tenaga kesehatan karena adanya pandangan atau stigma yang keliru. Padahal, kehadiran orang terdekat yang bersedia mendengarkan dengan tulus dan tanpa menghakimi itu sangat krusial dampaknya. Hal itu memberikan jaminan dan ketenangan bagi mereka yang sedang bermasalah, bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian dan ada orang lain yang peduli pada mereka,” tambah dr. Mutiara.

Melalui kegiatan edukasi dan penyuluhan yang berlangsung di SMAN 14 Tangerang ini, Puskesmas Batusari berharap kesadaran seluruh warga sekolah terhadap pentingnya kesehatan mental semakin meningkat. Langkah ini sejalan dengan visi sekolah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga manusiawi, sehat, dan menyenangkan bagi seluruh siswa.(zher).


Next Post

ODHIV Kaltim Diberikan Penguatan Mental Health dan Dukungan Sebaya

Jum Mei 8 , 2026
SAMARINDA — Pertemuan Orang dengan HIV (ODHIV) tingkat Provinsi Kalimantan Timur yang digelar di Tranz MAV Hotel Samarinda berlangsung hangat […]