KOTA TANGERANG — Pagi belum sepenuhnya terang ketika sebagian guru sudah bersiap meninggalkan rumah. Dengan tas berisi buku pelajaran dan tumpukan administrasi, mereka melangkah menuju sekolah demi menjalankan tugas mulia: mendidik anak-anak bangsa.
Namun di balik senyum dan kesabaran mereka di ruang kelas, tersimpan kenyataan yang tidak selalu indah. Banyak guru, terutama tenaga honorer, masih harus hidup dalam keterbatasan ekonomi, menerima gaji jauh di bawah kata layak, bahkan terkadang harus mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Ironisnya, di tengah pengabdian tanpa batas itu, para guru kerap menjadi pihak pertama yang disalahkan ketika terjadi persoalan pada siswa. Mulai dari kenakalan remaja, konflik antar pelajar, hingga kasus yang sebenarnya berakar dari lingkungan sosial dan keluarga, tidak jarang berujung pada tudingan kepada guru.
“Guru sekarang posisinya serba salah. Menegur siswa dianggap keras, membiarkan dianggap tidak mendidik,” ujar seorang guru honorer sekolah dasar di Kota Tangerang yang enggan disebutkan namanya.
Ia mengaku pernah mendapat protes dari orang tua murid hanya karena meminta siswa lebih disiplin dalam belajar. Padahal, menurutnya, teguran itu dilakukan demi kebaikan anak didik.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana profesi guru perlahan menghadapi tantangan yang semakin berat. Di satu sisi mereka dituntut mencetak generasi unggul, namun di sisi lain dukungan terhadap kesejahteraan dan perlindungan profesi masih minim.
Banyak guru honorer di berbagai daerah bahkan menerima honor yang tidak sebanding dengan tanggung jawab yang diemban. Ada yang hanya memperoleh ratusan ribu rupiah per bulan, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Meski demikian, sebagian besar guru tetap bertahan. Bukan karena hidup mereka sudah sejahtera, melainkan karena kecintaan terhadap dunia pendidikan dan harapan melihat murid-muridnya berhasil di masa depan.
Setiap hari mereka bukan hanya mengajar membaca, menulis, dan berhitung. Guru juga menjadi pendengar, penengah, bahkan terkadang pengganti orang tua bagi siswa yang membutuhkan perhatian.
“Kadang kami harus menjadi konselor, orang tua, sekaligus sahabat bagi anak-anak. Tapi ketika ada masalah, guru yang paling dulu disudutkan,” kata seorang guru SMP di Kota Tangerang.
Perubahan zaman juga membuat tantangan guru semakin kompleks. Pengaruh media sosial, pergaulan bebas, hingga menurunnya etika sebagian pelajar membuat tugas mendidik tidak lagi mudah. Namun guru tetap berada di garis depan untuk menjaga generasi muda agar tidak kehilangan arah.
Di tengah kondisi tersebut, banyak kalangan menilai sudah saatnya profesi guru mendapatkan perhatian lebih serius, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
Kesejahteraan yang layak, perlindungan hukum, hingga dukungan moral dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar guru dapat bekerja dengan tenang dan maksimal.
Sebab sesungguhnya, kemajuan bangsa tidak pernah lahir begitu saja. Di balik setiap orang sukses, selalu ada guru yang dengan sabar mengajarkan ilmu dan nilai kehidupan.
Guru mungkin bukan profesi yang membuat seseorang cepat kaya. Tetapi dari tangan merekalah lahir dokter, polisi, pengusaha, pejabat, hingga pemimpin negeri.
Dan di balik papan tulis yang tampak sederhana itu, ada perjuangan panjang yang sering kali luput dari perhatian.(zher).


