Deklarasi Pandeglang Bangkit, Selat Sunda Aman, Hanya Jadi Ajang Seremoni


Korantangerang.com – Di Hari Jadi Kabupaten Pandeglang ke-145 tahun, yang jatuh pada hari Senin (1/4/2019) ini. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, telah menyiapkan belasan agenda kegiatan, untuk memeriahkan hari jadinya, dengan mengusung tema “Pandeglang Bangkit” sebagai wujud konsistensi Pemkab, memulihkan kondisi Pandeglang pasca bencana tsunami akhir tahun 2018 lalu, khususnya bagi daerah terdampak.

Bahkan, untuk membuat tema Pandeglang Bangkit lebih nyata, dan membuat kesan adanya keseriusan Pemkab guna membangkitkan keterpurukan daerah terdampak, khususnya wilayah pesisir yang menjadi icon pariwisata di Pandeglang. Tidak tanggung tanggung, Pemkab Pandeglang pun mengundang Mentri Pariwisata, untuk mendeklarasikan Selat Sunda Aman dan Doa Bersama Selat Sunda Aman.

Namun sayang, momentum Pandeglang Bangkit dengan tagar Selat Sunda Aman, yang rencana deklarasinya dihadiri Mentri Pariwisata, Arif Yahya tersebut, seakan membuat luka para pelaku usaha wisata, yang ada di daerah terdampak, khususnya di Carita. Lantaran acara deklarasi itu sendiri, tidak dilakukan di daerah terdampak tsunami, seperti halnya di Carita.

“Deklarasi Pandeglang Bangkit, Selat Sunda Aman itu, tidak dilakukan di daerah terdampak tsunami. Sehingga jelas, deklarasi tersebut, terkesan hanya acara seremonial, yang tidak memberi dampak apa pun pada daerah terdampaknya, khususnya Carita ini. Bahkan dari informasi yang saya dapat, usai deklarasi sang mentri akan berkunjung ke Tanjung Lesung, beserta rombongannya, kenapa ga Carita,” ungkap Teja Heryana, seorang tokoh pariwisata Carita, Senin (1/4/2019).

“Yang pasti Carita harus lebih bersabar lagi, untuk bisa bangkit dari keterpurukannya pasca tsunami. Karena jelas, Tanjung Lesung tersebut kan Kawasan Ekonomo Khusus (KEK), jadi wajar bila sang mentri lebih memilihnya, dengan alasan pemulihan KEK pasca tsunami. Kan kalau Carita tidak masuk pada program pemulihan itu,” tambahnya.

Menurut mantan anggota DPRD Pandeglang ini, bahwa sejatinya program KEK itu adalah program mimpi yang dipaksakan, hingga terkesan hanya menghambur-hamburkan anggaran saja. Padahal, baik di Pandeglang, Banten maupun Nasional, nama Carita dan pesona Carita dengan Sunset Of Java nya, jauh lebih dikenal ketimbang Tanjung Lesung.

“Menurut pandangan saya, KEK Tanjung Lesung adalah program mimpi yang dipaksakan. Saya ga tau pasti, berapa banyak anggaran dari Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten Pandeglang, yang telah diglontorkan, hanya untuk kepentingan sekelompok orang saja. Andai anggarn-anggaran itu dialokasikan untuk penataan obyek wisata di Carita, saya yakin jauh lebih besar manfaatnya, baik bagi pelaku usaha, masyarakat dan pemerintah sendiri,” jelas Teja.

Teja pun mengaku sangat meragukan komitmen pemerintah, khususnya Pemkab Pandeglang dalam memajukan sektor kepariwisataan ini. Karena menurutnya, masih banyak persoalan yang sebenarnya harus ada campur tangan pemerintah, khususnya dalam pengelolaan tata ruang, penyediaan fasilitas umum, maupun pengelolaan sampah.

“Kalau memang pemerintah komitmen, sebenarnya untuk Carita ini hanya perlu penataan terpadu. Nah ini perlu adanya peran pemerintah itu, mulai dari penataan bahu jalan, pasar wisata, pengelolaan sampah, proyek kali bersih, maupun penyediaan fasilitas-fasilitas umum lainya.

Disamping bersinergi langsung dengan para pelalu usaha wisatanya. Karena yang pasti, Carita itu sudah jauh lebih populer dan dikenal dibanding yang lain,” pungkasnya. (Daday/timTerasnetwork)


Next Post

Pandeglang Belum Beranjak Dari Keterpurukannya

Sen Apr 1 , 2019
Korantangerang.com – Hari ini, Senin 1 April 2019 merupakan Hari Jadi Kabupaten Pandeglang yang ke-145 tahun. Dalam usianya yang terbilang […]