Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Pemasyarakatan (PIPAS) Banten Rayon II berlangsung ceria dan penuh makna di Aula Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang, Sabtu, 29 November 2025. Dengan tema “Dengan Semangat Hari Bhakti Imigrasi dan Pemasyarakatan, PIPAS Banten Menyatukan Langkah dalam Iman, Semangat, dan Pengabdian untuk Bangsa,” kegiatan ini menghadirkan ruang bertemu, bertukar rasa, dan memperkuat jaringan perempuan pemasyarakatan se-Banten.
Acara dibuka meriah melalui penampilan Warga Binaan Pemasyarakatan yang membawakan Mojang Priangan dan Tabola Bale. Musik bercampur tawa, ibu-ibu bergoyang ringan mengikuti ritme — mencairkan suasana dan menyalakan semangat kebersamaan.
Rangkaian dilanjutkan dengan pembacaan puisi bertema Ibu oleh rekan Dik Doank. Syairnya pelan tapi kuat: tentang lelah yang disembunyikan, pelukan yang tak pernah habis, dan rindu yang tak pernah padam. Pada saat yang sama, tiga sahabat Dik Doank melukis wajah peserta secara langsung, menciptakan dialog visual antara seni, rasa, dan memori. Ruangan hening, namun hangat oleh pesan cinta seorang ibu.
Memasuki inti acara, tausiyah oleh Dik Doank mengajarkan arti sabar. Sabar sebagai kekuatan dalam diam, sabar sebagai kontrol diri, sabar yang menyiapkan hati untuk lebih kuat menghadapi peran hidup. Beliau juga membahas ilmu “mendalami spiritualitas” — belajar memahami tak hanya apa yang tampak, tetapi juga apa yang bekerja di dalam diri.
Sambutan tuan rumah disampaikan oleh Kalapas Perempuan Kelas IIA Tangerang, Salis Farida Fitriani yang menyampaikan apresiasi, sekaligus memohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan kegiatan. Ia berharap silaturahmi semacam ini menjadi ruang yang terus hidup dan tumbuh.
Sementara itu, Ketua PIPAS Daerah Banten, Ibu Maya Ali Syeh Banna, memberikan pesan yang menyentuh berbagai peran perempuan.
“Kita ini ibu-ibu multifungsi. Kita bekerja, kita mengurus rumah, kita mendidik, kita menopang. Tapi ingat satu hal — bahagiakan diri sendiri dulu, baru orang lain. Tidak mudah, tapi mungkin,” ujarnya.
“Seperti yang Pak Dik Doank sampaikan tentang ilmu mendalami spiritualitas, jangan pernah berhenti menuntut ilmu. Kita berkembang, kita belajar, kita naik level sebagai perempuan, sebagai ibu, sebagai manusia.”
Kegiatan kemudian ditutup dengan arisan, doorprize, serta ramah tamah dan foto bersama.



