KOTA TANGERANG – Proyek Looping Karawaci di Kota Tangerang tak hanya diarahkan untuk mengurai kemacetan di Jalan Imam Bonjol. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang juga membidik kawasan bantaran Sungai Cisadane sebagai ruang publik baru yang berpotensi dikembangkan menjadi destinasi rekreasi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Penataan kawasan tersebut dilakukan melalui pembangunan akses jalan, trotoar, dan saluran drainase. Ke depan, kawasan di sekitar bantaran Cisadane diharapkan tidak sekadar menjadi jalur alternatif kendaraan, tetapi juga ruang terbuka yang nyaman untuk aktivitas warga.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tangerang, Taufik Syahzaeni, mengatakan pembangunan Looping Karawaci dilaksanakan secara bertahap. Pada tahap saat ini, pekerjaan difokuskan pada pembangunan jalan sepanjang sekitar 120 meter dengan lebar tujuh meter, dilengkapi trotoar dan saluran drainase.
“Panjang yang kita bangun saat ini sekitar 120 meter dengan lebar tujuh meter. Kita juga membangun trotoar dan saluran drainase untuk mengurangi beban air di Jalan Imam Bonjol,” ujar Taufik, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Taufik, pembangunan akses tersebut menjadi langkah awal dalam penataan kawasan bantaran Cisadane secara berkelanjutan. Pemkot Tangerang berharap kawasan di sisi barat dan timur sungai nantinya dapat saling terhubung sehingga mobilitas masyarakat semakin mudah dan lingkungan perkotaan lebih tertata.
Looping Karawaci Diharapkan Kurangi Kemacetan
Salah satu tujuan utama proyek ini adalah mengurangi kepadatan lalu lintas di Jalan Imam Bonjol. Akses baru di kawasan Cisadane diharapkan dapat menjadi alternatif pergerakan kendaraan sehingga beban lalu lintas di ruas tersebut bisa berkurang.
Namun, efektivitas akses baru itu masih bergantung pada penerapan manajemen dan rekayasa lalu lintas yang sedang dibahas bersama Dinas Perhubungan.
“Kita sedang berdiskusi dengan Dinas Perhubungan mengenai sistem manajemen lalu lintas, termasuk arah pergerakannya. Harapannya, beban kemacetan di Jalan Imam Bonjol bisa dikurangi melalui akses di kawasan Cisadane ini,” jelasnya.
Taufik menyebutkan, progres pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 38 persen. Pemkot Tangerang menargetkan pekerjaan pada tahap tersebut rampung pada Desember 2026.
Bantaran Cisadane Berpeluang Jadi Ruang Wisata Perkotaan
Di luar fungsi transportasi, bantaran Cisadane dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang publik yang produktif. Panorama sungai yang dipadukan dengan jalur pedestrian dapat menjadi daya tarik untuk menghadirkan kawasan rekreasi di tengah kota.
Kawasan tersebut berpeluang dimanfaatkan sebagai area kuliner, tempat berkumpul warga, hingga ruang untuk kegiatan olahraga. Jika konektivitas kedua sisi sungai dapat diwujudkan secara optimal, masyarakat juga berpotensi memiliki alternatif lokasi untuk berlari, bersepeda, dan menikmati suasana tepian sungai.
“Ke depan, kawasan ini bisa dimanfaatkan sebagai ruang publik baru bagi masyarakat. Selain akses jalan, kita juga ingin mengoptimalkan fungsi lainnya agar kawasan ini lebih menarik dan memiliki nilai ekonomi,” kata Taufik.
Pengembangan tersebut juga membuka peluang bagi tumbuhnya kegiatan usaha masyarakat, terutama sektor kuliner dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan penataan yang terencana, bantaran sungai berpotensi memiliki fungsi lebih luas, bukan hanya sebagai bagian dari infrastruktur perkotaan, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial dan pendukung ekonomi lokal.
Meski demikian, potensi tersebut masih membutuhkan perencanaan dan realisasi lebih lanjut. Pemkot Tangerang berencana melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), terutama yang menangani infrastruktur, lingkungan hidup, dan perencanaan pembangunan.
Koordinasi lintas sektor diperlukan agar pengembangan kawasan memperhatikan aksesibilitas, keselamatan pengunjung, kebersihan, serta kesesuaian pemanfaatan ruang.
Melalui Looping Karawaci, Pemkot Tangerang berupaya menghadirkan infrastruktur yang memiliki manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Pekerjaan berikutnya bukan hanya memastikan proyek selesai sesuai target, melainkan juga membuktikan efektivitasnya dalam mengurai kemacetan. Sementara itu, gagasan menjadikan bantaran Cisadane sebagai kawasan rekreasi dan penggerak ekonomi perlu ditindaklanjuti melalui perencanaan yang jelas agar tidak berhenti sebagai potensi.
Dengan begitu, Looping Karawaci diharapkan dapat memberikan manfaat nyata, baik bagi kelancaran lalu lintas maupun kualitas ruang publik di Kota Tangerang.
(*)



