Milad ke-43 Granada: Pendidikan Bukan Sekadar Mengajar, Tapi Membangun Peradaban


Tangerang – Empat puluh tiga tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah lembaga pendidikan. Di usia ke-43, Yayasan Granada Al-Hikmah tidak hanya menandai perjalanan panjangnya dengan seremoni, tetapi memilih menjadikannya sebagai ruang muhasabah: sudah sejauh mana pendidikan dijalankan sebagai amanah peradaban?

Milad kali ini dirangkaikan dengan Seminar Parenting bertema “Menciptakan Lingkungan Aman dan Penuh Kasih: Peran Orang Tua Hebat dalam Pencegahan Bullying Anak Usia Dini”.

Tema ini terasa relevan, bahkan mendesak di tengah realitas pendidikan hari ini, ketika kasus perundungan tak lagi bisa dianggap sebagai sekadar kenakalan anak.
Ketua Yayasan Granada Al-Hikmah, Mohamad Ismail Musa, M.Ag, menegaskan bahwa Milad bukan sekadar perayaan usia institusi.

“Milad ini bukan sekadar perayaan usia, tetapi menjadi muhasabah dan penguat tekad agar Granada senantiasa istiqamah dalam mencetak generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu berkontribusi untuk agama, bangsa, dan umat.”

Pernyataan itu bukan basa-basi seremonial. Ia menyentuh akar persoalan pendidikan kita: krisis karakter. Di tengah capaian akademik yang kerap dijadikan ukuran tunggal keberhasilan, pendidikan karakter justru sering tercecer di ruang-ruang formal.

Granada, dalam refleksi 43 tahunnya, mencoba menegaskan kembali bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi transfer nilai. Bukan hanya membentuk siswa yang cerdas secara kognitif, tetapi matang secara emosional dan kokoh secara spiritual.

“Alhamdulillah, pada usia 43 tahun ini, Granada telah menapaki perjalanan panjang dalam ikhtiar mencerdaskan generasi, menanamkan nilai keislaman, dan membangun peradaban melalui pendidikan,” lanjutnya.

Kalimat “membangun peradaban” tentu bukan klaim ringan. Peradaban lahir dari generasi yang tumbuh dalam lingkungan aman, penuh kasih, dan memiliki keteladanan. Di sinilah peran orang tua, guru, dan institusi pendidikan tak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Seminar parenting yang digelar bukan sekadar agenda pelengkap Milad, melainkan pesan tegas bahwa sekolah dan orang tua harus menjadi satu ekosistem. Pencegahan bullying tidak cukup dengan aturan dan sanksi. Ia membutuhkan kultur kasih sayang, komunikasi yang sehat, serta keteladanan dari orang dewasa.

Ketua Yayasan juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen yang selama ini membersamai perjalanan Granada.

“Kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pendiri, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, alumni, serta seluruh pihak yang telah membersamai perjuangan Granada dengan doa, tenaga, dan pengorbanan terbaiknya.”

Ucapan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah kerja kolektif. Tidak ada lembaga yang bisa berdiri hanya karena sistemnya kuat, tanpa dukungan moral dan spiritual dari komunitasnya.

Di tengah tantangan zaman—disrupsi digital, krisis adab, hingga kompetisi global—Granada menegaskan arah langkahnya melalui semangat: “Bersama Melangkah, Menguatkan Ikhtiar, Meraih Keberkahan.”

“Semoga di usia ke-43 ini, Granada Al-Hikmah semakin juara, berprestasi, dan diberkahi Allah SWT, serta terus menjadi cahaya kebaikan bagi lingkungan dan masa depan,” tutup Mohamad Ismail Musa.

Pada akhirnya, Milad ke-43 ini bukan tentang angka. Ia tentang konsistensi. Tentang keberanian menjaga nilai di tengah perubahan. Dan tentang keyakinan bahwa pendidikan yang berakar pada iman dan akhlak akan selalu relevan, bahkan ketika zaman berubah sangat cepat.
(nurul).


Next Post

Sungai Cisadane Tercemar, PERUMDAM TKR Tegaskan Air Pelanggan Tetap Aman dan Sesuai Standar Kesehatan

Sel Feb 10 , 2026
KABUPATEN TANGERANG – Isu pencemaran Sungai Cisadane memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, PERUMDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) memastikan kualitas […]