Oleh : Memed Shofa
Serang, 27 April 2026 — Seba Baduy kembali digelar sebagai tradisi tahunan masyarakat adat Baduy yang sarat makna, filosofi, dan amanah leluhur. Pada tahun 2026 ini, rangkaian Seba berlangsung sejak 24 hingga 26 April dengan diikuti sekitar 1.500 warga Baduy dari kawasan pegunungan Halimun dan wilayah adat sekitarnya.
Seperti tradisi yang diwariskan turun-temurun, masyarakat Baduy berjalan kaki menuju Rangkasbitung untuk bertemu Bupati Lebak dan bermalam di sana. Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Kota Serang untuk menemui Gubernur Banten di Pendopo Gubernur Lama.
Namun Seba Baduy 2026 menghadirkan nuansa baru yang menarik perhatian banyak pihak. Jika dahulu kidung, amanat, dan pitutur para kokolot hanya disampaikan dalam bahasa Sunda dan dipahami secara terbatas, kini pesan adat tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kehadiran beberapa duta besar negara sahabat semakin memperlihatkan bahwa nilai-nilai adat Baduy mulai dipandang sebagai kearifan lokal yang memiliki makna universal bagi dunia modern.
Di balik rangkaian ritual dan perjalanan budaya itu, terdapat pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar seremoni adat. Para kokolot Baduy menegaskan kembali amanah leluhur untuk menjaga hutan, gunung, dan sumber mata air. Mereka mengingatkan bahwa kawasan pegunungan seperti Gunung Karang, Gunung Gede, Gunung Salak, hingga bentang alam Halimun bukan hanya benteng ekologis, melainkan sumber kehidupan bagi manusia.
Dalam filosofi Baduy, merusak hutan berarti merusak masa depan. Ketika pepohonan ditebang tanpa kendali, mata air akan mengering, tanah kehilangan daya ikat, lalu banjir dan longsor datang menghantam kehidupan manusia. Amanah menjaga alam, menurut mereka, bukan hanya tugas masyarakat adat, tetapi kewajiban moral seluruh manusia.
Pesan tersebut terasa semakin relevan di tengah berbagai bencana ekologis yang terus terjadi di Indonesia. Banjir, longsor, gagal panen, hingga krisis air bersih menjadi bukti nyata bahwa eksploitasi alam yang berlebihan membawa penderitaan panjang. Banyak kawasan hutan rusak akibat kepentingan ekonomi jangka pendek, sementara dampak sosial dan ekologisnya harus ditanggung masyarakat luas selama bertahun-tahun.
Karena itu, Seba Baduy sejatinya bukan sekadar parade budaya atau atraksi wisata tahunan. Seba adalah “alarm peradaban” yang mengingatkan manusia agar tidak melupakan hubungan sakral antara alam dan kehidupan. Tradisi ini mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh dibangun dengan menghancurkan gunung, hutan, dan sumber air yang menjadi penyangga kehidupan generasi mendatang.
Dari pesan kokolot Baduy tersebut, terdapat sejumlah pelajaran penting yang dapat dijadikan arah kebijakan bersama. Pemerintah perlu menempatkan Seba Baduy bukan hanya sebagai agenda budaya, tetapi juga forum dialog ekologis antara masyarakat adat dan negara. Pesan-pesan adat tentang perlindungan hutan dan tata ruang perlu menjadi pertimbangan dalam pembangunan kawasan pegunungan dan konservasi sumber air.
Penguatan hak masyarakat adat juga menjadi hal penting, agar wilayah hutan adat terlindungi dari eksploitasi besar-besaran yang merusak keseimbangan lingkungan. Di sisi lain, pengawasan hutan harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan masyarakat adat sebagai penjaga moral sekaligus penjaga ekologis kawasan konservasi.
Filosofi hidup masyarakat Baduy pun layak dijadikan inspirasi pendidikan lingkungan. Nilai sederhana seperti “gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak” bukan sekadar petuah adat, melainkan prinsip keberlanjutan yang sangat modern: manusia harus hidup berdampingan dengan alam, bukan menaklukkannya secara rakus.
Sudah saatnya pula masyarakat memandang Baduy bukan hanya sebagai objek wisata budaya, tetapi sebagai mitra strategis dalam menjaga keseimbangan alam. Tradisi, pengetahuan lokal, dan cara hidup mereka merupakan warisan penting yang dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan yang lebih bijaksana dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, Seba Baduy 2026 mengingatkan bangsa ini bahwa kemajuan sejati bukan diukur dari banyaknya gedung dan jalan yang dibangun, tetapi dari seberapa baik manusia menjaga hutan, gunung, sungai, dan mata air sebagai sumber kehidupan bersama. Sebab ketika alam rusak, sesungguhnya manusia sedang menggali kesengsaraannya sendiri.
Dan dari kaki-kaki pegunungan Halimun, para kokolot Baduy kembali mengirim pesan sederhana namun mendalam kepada dunia:
“Jaga alam, maka alam akan menjaga kehidupan.”



