Korantangerang.com – Hidup itu ibarat kita memiliki sebidang taman. Diserahkan pada kita masing-masing dengan apa kita akan menanami taman tersebut. Bunga anggrek? Bunga melati? Bebas. Mau dipagari dengan besi, bambu, tembok? Bebas. Mau diberi pupuk apa pun juga bebas. Pilihan jatuh pada kita. Hanya saja, dibalik kebebasan itu ada konsekuensi sendiri-sendiri.
Meski hidup kita bersosialisasi dan saling mempengaruhi satu sama lain, sejatinya kita sedang menanam ‘kebun’ kita sendiri-sendiri. Ditanami dengan pohon sabar, syukur, taqwa? Bebas. Atau ditanami dengan pohon kufur, namimah, riya’, dan sebagainya? Bebas. Hanya saja, konsekuensi akan kita tanggung sendiri-sendiri. Orang yang teguh dalam kebaikan di mana pun berada akan memegang teguh itu. Karena hakikatnya taman yang indah itu ingin ia perlihatkan kelak pada tuhan Nya.
Hanya saja mesti kita ingat, ada yang membatasi kita; waktu. Ia tak bisa ditambah tak jua dikurangi. Periksa taman kita. Jangan-jangan dulu pernah menanam pohon benci. Cabut segera sebelum waktu kita habis. Cabut pohon ingin dipuja puji. Karena ia menghanguskan pohon-pohon kebaikan yang sudah susah payah kau tanam.
Jika hidup hanya untuk menanam kebaikan, niscaya tamanmu laksana surga dunia. Yang di dunia disenangi orang, di akhirat disenangi pemilik alam.
Oleh Rizqie F Jurnaliska



