Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) resmi menutup kegiatan Singapore Country Training bertajuk Essential Skills in Negotiation, Diplomacy, and Public Speaking bagi para Analis Kerja Sama. Kegiatan ini berlangsung di Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (PPKASN) Kemensetneg, Jakarta, pada Jumat (06/02/2026).
Kegiatan pelatihan ini menjadi wujud nyata komitmen Kemensetneg dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia aparatur sipil negara, khususnya analis kerja sama, guna mendukung diplomasi dan kerja sama internasional yang profesional, efektif, dan berkelanjutan.
Kepala Pusat Pembinaan Analis Kerja Sama (Kapusbin AKS) Kemensetneg, Andri Kurniawan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta atas partisipasi aktif dan komitmen yang ditunjukkan selama pelatihan berlangsung.
“Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan teknis, tetapi juga bertujuan memperkuat profesionalisme, kepercayaan diri, serta keterampilan komunikasi para analis kerja sama dalam menjalankan peran strategisnya,” ujar Andri.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan kerja sama internasional menuntut kemampuan negosiasi yang konstruktif, komunikasi yang persuasif, serta diplomasi yang efektif. Oleh karena itu, program ini dirancang untuk membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam tugas sehari-hari.
Andri juga menyampaikan bahwa hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan kompetensi peserta secara signifikan, yang menandakan bahwa pelatihan telah mencapai tujuan yang diharapkan.
“Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang nyata dan terukur. Ini menjadi bukti bahwa pelatihan berjalan efektif dan memberikan dampak positif bagi peningkatan kapasitas peserta,” jelasnya.
Lebih lanjut, Andri berharap pelatihan ini dapat menjadi fondasi bagi keberlanjutan kerja sama pengembangan kapasitas antara Kemensetneg dan Pemerintah Singapura.
“Kami berharap program ini menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan dengan Kedutaan Besar Singapura dan Singapore Cooperation Programme dalam mengembangkan kompetensi analis kerja sama Indonesia. Pembangunan kapasitas adalah proses jangka panjang, dan kegiatan ini merupakan salah satu tonggak pentingnya,” ungkap Andri.
Sementara itu, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar Republik Singapura, Terrence Teo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan pilar utama dalam hubungan bilateral Indonesia-Singapura. Melalui SCP, Singapura berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kapasitas aparatur sipil negara Indonesia.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan negosiasi tidak hanya diukur dari hasil akhir, tetapi dari hubungan dan kepercayaan yang dibangun selama proses berlangsung.
“Negosiasi yang berhasil adalah tentang hubungan yang terjalin. Hubungan inilah yang akan terus kita bawa dalam kerja sama bilateral maupun multilateral di masa depan,” ujarnya.
Pelatihan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Pemerintah Singapura melalui Singapore Cooperation Programme (SCP). Kegiatan berlangsung sejak 26 Januari hingga 6 Februari 2026 dan diikuti oleh peserta berasal dari lintas kementerian, di antaranya Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Badan Kepegawaian Negara, serta Badan Siber dan Sandi Negara.
M. Badru Zaman dari Kementerian Sekretariat Negara menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan pemahaman awal yang penting, khususnya bagi peserta yang dipersiapkan untuk peran analis kerja sama.
“Dasar-dasar negosiasi, diplomasi, dan public speaking merupakan hal yang baru bagi saya. Jadi, akan sangat berguna jika ke depannya kita akan menjadi Analis Kerja Sama,” ujar Badru.
Apresiasi serupa disampaikan oleh Ayu Hassyati dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Evy Margaretha dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Keduanya menilai bahwa pelatihan yang diselenggarakan oleh Biro KTLN Kemensetneg bersama SCP tersebut telah disusun secara komprehensif dan relevan dengan kebutuhan peserta.
“Pelatihan yang well-developed, meaningful, useful, dan applicable buat kami,” pungkas Evy. (FID/YLI-Humas Kemensetneg)



