Ko6q Tangerang – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang bergerak cepat merespons kondisi darurat sampah yang tengah dihadapi. Bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), DLH melakukan kunjungan kerja ke Surabaya untuk mempelajari sistem pengelolaan sampah modern dan terintegrasi sebagai referensi pembenahan di Kota Tangerang.
Rombongan meninjau langsung TPA Benowo yang dikenal sebagai salah satu tempat pemrosesan akhir dengan sistem pengolahan sampah terintegrasi di Indonesia. Di lokasi ini, sampah tidak hanya ditimbun, tetapi juga diolah melalui skema Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) dengan kapasitas sekitar 1.000 ton per hari, serta penerapan landfill mining untuk mengurai timbunan lama.
Kepala DLH Kota Tangerang, Wawan Fauzi, menegaskan bahwa kunjungan tersebut menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap pola pengelolaan sampah di daerahnya.
“Kami menyadari, pengelolaan sampah tidak bisa lagi sekadar angkut dan buang. Harus ada perubahan sistem yang menyentuh pengurangan, pemilahan, hingga pemanfaatan kembali. Apa yang kami lihat di Benowo menjadi pembelajaran penting untuk diterapkan secara bertahap di Kota Tangerang,” ujar Wawan.
Menurutnya, kondisi TPA Rawa Kucing saat ini membutuhkan solusi komprehensif. Dengan luas sekitar 34 hektare, TPA tersebut diproyeksikan akan mencapai kapasitas maksimal dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Tantangan semakin berat ketika banjir menghambat operasional pengangkutan, ditambah insiden kebakaran pada 2023 yang sempat mengganggu sistem pengelolaan.
“Saat ini fokus kami memang masih pada penanganan timbunan baru agar pelayanan tetap berjalan. Namun ke depan, skema landfill mining menjadi opsi yang realistis untuk mengurangi beban sampah lama sembari menunggu implementasi PSEL berjalan optimal,” jelasnya.
Tak hanya belajar dari pengelolaan TPA, DLH juga meninjau praktik industri ramah lingkungan di PT Suparma Tbk. Perusahaan tersebut meraih sertifikasi “Zero Waste to Landfill” pada 29 Januari 2026 setelah mampu mengelola 99,95 persen limbah padatnya agar tidak berakhir di TPA.
Bagi Wawan, praktik zero waste di sektor industri menjadi inspirasi penting untuk diterapkan di Kota Tangerang, terutama dalam pengelolaan sampah organik di pasar tradisional serta kawasan usaha.
“Kami ingin memperkuat pengolahan sampah dari sumbernya. Sampah organik harus bisa diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik didorong untuk didaur ulang. Dunia usaha juga perlu terlibat aktif, karena persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
DLH Kota Tangerang, lanjut Wawan, akan menyusun langkah strategis berbasis hasil studi tersebut, mulai dari penyempurnaan regulasi, penguatan infrastruktur, hingga peningkatan kesadaran masyarakat.
“Target kami jelas, menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Kota Tangerang harus bertransformasi menuju kota yang bersih dan berwawasan lingkungan,” pungkasnya.
(Zher).



