Di Bawah Deru Pesawat, Ada Tawa yang Tumbuh di Perimeter Utara


Tangerang – Sore itu, langit di utara Bandara Soekarno-Hatta berwarna jingga keemasan. Angin tipis membawa aroma aspal yang hangat bercampur wangi bakso kuah dari gerobak di pinggir jalan. Di balik pagar perimeter, satu per satu pesawat menderu, bersiap lepas landas atau turun perlahan menyentuh landasan.

Namun di sisi luar pagar, ada pemandangan yang tak kalah menarik.

Beberapa keluarga dari Bojong Renged, Rawa Burung, hingga Selapajang duduk beralaskan tikar yang digelar di tanah. Ada yang membawa tikar sendiri, ada pula yang menyewa dari pedagang. Anak-anak duduk di depan, tangan kecil mereka sibuk menunjuk ke langit.

“Itu… itu mau turun!” teriak seorang bocah, matanya berbinar mengikuti pesawat yang merendah.

Bagi mereka, ini bukan sekadar menonton pesawat. Ini adalah rekreasi murah meriah yang sarat kebersamaan.

Ayah-ayah menyeruput kopi panas dari gelas plastik. Ibu-ibu membagi bakso ke mangkuk kecil. Anak-anak menikmati es warna-warni yang dijajakan pedagang keliling. Di samping mereka, gerobak bertuliskan “Es Segar” berdiri setia, roda-rodanya sedikit berdebu oleh lalu lalang kendaraan.

Tak ada tiket masuk. Tak ada wahana mahal. Hanya langit terbuka, suara mesin pesawat, dan waktu yang mengalir pelan.

Bagi sebagian warga, akhir pekan di perimeter utara sudah seperti tradisi kecil. Mereka datang menjelang magrib, memilih titik duduk yang cukup dekat untuk melihat pesawat dengan jelas. Setiap kali pesawat mendarat, wajah-wajah kecil itu seolah ikut turun bersama roda yang menyentuh landasan. Dan saat pesawat tinggal landas, ada semacam harapan yang ikut terbang.

“Anak saya kalau lihat pesawat bilang mau jadi pilot,” ujar seorang ibu sambil tersenyum. “Ya mudah-mudahan dari sini mimpi itu tumbuh.”

Di sepanjang jalan, ekonomi kecil ikut bergerak. Pedagang mie ayam, bakso, kopi, es, hingga camilan ringan menikmati ramainya akhir pekan. Mereka tak sekadar berjualan, tapi menjadi bagian dari suasana. Ada canda, ada obrolan ringan, ada tawar-menawar yang diselingi tawa.

Deru pesawat yang bagi sebagian orang terasa bising, di sini justru menjadi latar musik kebersamaan.

Ketika senja benar-benar turun dan lampu-lampu landasan mulai menyala, satu per satu keluarga berkemas. Tikar dilipat, gelas plastik dibuang ke kantong sampah, anak-anak digandeng pulang dengan langkah enggan.

Mungkin bagi sebagian orang, ini hanya pinggiran bandara. Tapi bagi warga di Bojong Renged, Rawa Burung, dan Selapajang, perimeter utara adalah ruang rekreasi rakyat, tempat mimpi sederhana tumbuh di bawah langit yang sama dengan pesawat-pesawat besar yang terbang tinggi.

Karena kebahagiaan, rupanya, tak selalu butuh gedung megah atau tiket mahal. Kadang cukup tikar tipis, segelas es manis, dan suara pesawat yang menggetarkan dada.

(zher).


Next Post

Di Antara Sirene Mobil Sekuriti dan Asa Pedagang, Cerita dari Perimeter Utara Bandara

Sen Feb 16 , 2026
TANGERANG – Matahari belum terlalu tinggi ketika beberapa pedagang mulai menggelar dagangan di sepanjang Perimeter Utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ada […]