Di Antara Sirene Mobil Sekuriti dan Asa Pedagang, Cerita dari Perimeter Utara Bandara


TANGERANG – Matahari belum terlalu tinggi ketika beberapa pedagang mulai menggelar dagangan di sepanjang Perimeter Utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ada yang menjajakan kopi panas dari termos sederhana, ada pula yang menjual gorengan, rokok, hingga minuman dingin untuk para sopir dan pekerja yang melintas.
Belum genap satu jam, peluit terdengar.

Sejumlah petugas sekuriti mendekat. Dengan nada tegas namun tetap terukur, mereka meminta para pedagang untuk segera membongkar lapaknya. Area tersebut disebut sebagai zona pengamanan bandara yang harus steril dari aktivitas non-resmi.

“Baru juga duduk, Pak… belum ada yang beli,” ucap seorang pedagang kopi, lirih, sambil menutup kembali termosnya. Tangannya cekatan, tapi raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kecewa.

Bagi para pedagang kecil, Perimeter Utara bukan sekadar pinggir jalan. Ia adalah titik harapan. Arus kendaraan yang tak pernah sepi dianggap peluang. Satu dua pembeli saja bisa cukup untuk menutup modal hari itu.

Namun bagi pengelola bandara melalui PT Angkasa Pura II, kawasan tersebut masuk dalam area dengan standar keamanan ketat. Aktivitas di luar ketentuan dinilai berpotensi mengganggu ketertiban dan sterilisasi.

Seorang petugas sekuriti, yang enggan disebutkan namanya, mengaku memahami kondisi para pedagang.

“Kami hanya menjalankan perintah dan SOP. Kalau dibiarkan, kami yang ditegur. Tapi kami juga tidak ingin bersikap kasar,” ujarnya singkat. Nada suaranya datar, namun tak sepenuhnya tanpa empati.

Sebagian pedagang mengaku sudah beberapa kali dipindahkan. Mereka datang kembali bukan untuk melawan, tetapi karena tak punya banyak pilihan.

“Kalau bukan di sini, harus ke mana lagi? Cari tempat lain belum tentu ramai,” kata pedagang lainnya.

Modal yang digunakan pun bukan jumlah besar. Seratus hingga dua ratus ribu rupiah bisa menjadi taruhan sehari penuh. Jika belum sempat berjualan, kerugian terasa dua kali lipat: tenaga habis, harapan pupus.

Di sisi lain, keberadaan pedagang di area perimeter memang kerap dipandang melanggar aturan. Risiko keamanan dan ketertiban menjadi pertimbangan utama.
Wajah Kota di Pinggir Bandara

Kisah di Perimeter Utara ini memperlihatkan satu potret kecil dari wajah kota: ketika kebijakan dan kebutuhan bertemu di ruang sempit bernama trotoar.

Tak ada yang sepenuhnya salah. Sekuriti menjalankan tugas. Pedagang memperjuangkan hidup. Yang tersisa hanyalah pertanyaan: adakah ruang tengah?
Sebuah solusi yang tak sekadar memindahkan, tetapi juga memikirkan keberlanjutan?

Di bawah terik matahari siang itu, para pedagang kembali mendorong gerobaknya menjauh. Jalanan kembali lengang. Namun esok hari, bisa jadi mereka akan kembali membawa harapan yang sama, di tempat yang belum tentu menerima mereka.

(zher).