Kota Tangerang – Di atas meja perencanaan, Kota Tangerang tampak melangkah mantap menuju masa depan. Dokumen Rancangan RKPD Tahun 2027 tersusun rapi, penuh dengan gagasan besar, istilah modern, dan optimisme pembangunan yang menjanjikan.
Ada mimpi tentang kota yang kompetitif, terhubung dengan konsep aerotropolis, dan bergerak cepat mengikuti denyut pertumbuhan kawasan urban.
Namun, di luar lembar-lembar kertas itu, kehidupan berjalan dengan cerita yang berbeda.
Di sudut-sudut permukiman, genangan air masih setia datang setiap hujan turun. Jalan-jalan lingkungan belum sepenuhnya mulus. Kemacetan masih menjadi rutinitas harian yang tak terelakkan.
Di sanalah warga hidup di antara harapan dan kenyataan yang belum sepenuhnya sejalan.
Jurnalis senior Marsudin Hasan, atau yang akrab disapa MH, melihat kontras itu dengan jelas.
Baginya, perencanaan pembangunan Kota Tangerang saat ini seperti melangkah terlalu jauh ke depan, sementara pijakan di bawah kaki belum benar-benar kokoh.
“Dokumennya memang terlihat ambisius, tapi tidak berpijak pada kebutuhan paling mendesak. Warga masih bicara soal banjir, jalan rusak, dan kemacetan,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Ia menggambarkan arah pembangunan itu seperti membangun rumah dari atapnya lebih dulu.
“Kalau genangan masih terjadi setiap hujan, drainase belum optimal, lalu kita bicara aerotropolis, ini seperti membangun atap tanpa fondasi,” katanya.
Bagi warga, persoalan banjir bukan sekadar data atau angka dalam laporan tahunan. Ia adalah kenyataan yang datang berulang, merendam halaman, bahkan masuk ke dalam rumah.
Sementara dalam dokumen perencanaan, solusi yang ditawarkan masih terasa sepotong-sepotong, embung di sana, normalisasi sungai di sini.
“Penanganan banjir itu harus sistemik, bukan parsial,” tegas MH.
Di sisi lain, geliat ekonomi juga menyimpan cerita yang serupa.
Program-program pemberdayaan seperti pendampingan UMKM, pelatihan kerja, hingga bantuan modal memang hadir. Tapi bagi MH, skala yang ditawarkan belum cukup besar untuk benar-benar menggerakkan roda ekonomi kota.
“Kalau hanya ratusan UMKM, dampaknya kecil untuk kota sebesar Tangerang,” ujarnya.
Sementara itu, berbagai kegiatan seperti job fair, pameran, dan lomba terus digelar setiap tahun. Ramai, meriah, dan penuh simbol optimisme. Namun di balik itu, muncul pertanyaan yang jarang terjawab: seberapa besar dampaknya bagi kehidupan warga?
“Itu penting, tapi kalau hanya jadi rutinitas tanpa evaluasi, akhirnya hanya seremonial,” kata MH.
Cerita serupa juga terlihat dalam isu lingkungan. Di tengah kepadatan kota, ruang hijau menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Namun, target penanaman pohon yang terbatas dinilai belum cukup menjawab tantangan besar tersebut.
“Ini lebih ke simbolik daripada solusi,” ujarnya singkat.
Di titik lain, pembangunan fisik seperti skybridge dan gedung parkir mulai dirancang. Modern, futuristik, dan mencerminkan wajah kota yang ingin maju.
Namun bagi sebagian warga, kebutuhan paling sederhana justru belum sepenuhnya terpenuhi: jalan lingkungan yang layak, saluran air yang berfungsi, dan akses yang nyaman.
“Warga tidak butuh skybridge kalau jalan di lingkungannya masih rusak,” kata MH.
Digitalisasi layanan publik juga menjadi bagian dari wajah baru kota. Puluhan aplikasi disiapkan untuk memudahkan masyarakat.
Tapi pengalaman masa lalu menunjukkan, banyaknya aplikasi tidak selalu berbanding lurus dengan kemudahan.
“Jangan sampai ini hanya jadi proyek teknologi tanpa manfaat nyata,” ujarnya.
Di tengah semua itu, bantuan sosial tetap menjadi penopang bagi sebagian warga. Namun, menurut MH, bantuan tersebut belum cukup untuk mengubah keadaan jika tidak diiringi penguatan ekonomi yang berkelanjutan.
“Kalau tidak dibarengi penciptaan ekonomi yang kuat, masyarakat akan terus bergantung,” katanya.
Di balik ambisi besar itu, ada satu hal yang tak bisa diabaikan: kemampuan anggaran daerah. Dengan kondisi fiskal yang terbatas, deretan program yang panjang berpotensi berhenti di tengah jalan.
“Kalau programnya banyak tapi uangnya terbatas, ini rawan tidak terealisasi,” ujarnya.
Pada akhirnya, pembangunan kota bukan hanya soal konsep besar atau istilah yang terdengar megah. Ia adalah tentang hal-hal sederhana yang dirasakan langsung oleh warga: jalan yang mulus, lingkungan yang tidak banjir, dan pelayanan yang cepat serta mudah.
“Kota ini tidak butuh program yang terlihat megah di atas kertas,” pungkas MH.
RKPD 2027 kini menjadi cermin: apakah ia akan menjadi peta jalan yang benar-benar membumi, atau sekadar kumpulan rencana yang indah untuk dibaca.
Di antara mimpi besar dan realitas sehari-hari, warga Kota Tangerang masih menunggu, apakah keduanya akan benar-benar bertemu.(zher)


