14 Tahun Berprofesi Sebagai Marbot, Kake Sanaan Tinggal Disebuah Mushola


Pandeglang – Kisah pilu seorang lelaki renta berusia 63 tahun, yang hidup sebatang kara di sebuah ruangan kecil di samping kamar mandi dan tempat berwudhu di Musholah Rodotuljanah, yang berada di Kampung Leuwipapan, Desa Kadu Bumbang, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang.

Lelaki tua yang saat ini berprofesi sebagai Marbot di Mushola tersebut, memiliki nama lengkap Sanaan Barnaba, atau yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan Mang Sanaan. Dari pengakuannya itu, bahwa dirinya telah tinggal di sebuah ruangan ukuran 3 x 3 meter, samping kamar mandi dan tempat berwudhu di Musholah Rodotuljanah, kurang lebih 14 tahun lamanya.

Diakui Mang Sanaan, dirinya tinggal di mushola itu lantaran sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Maka itu, memilih menjadi Marbot, atau Kaum yang bertanggungjawab mengurus keperluan mushola, khususnya yang berhubungan dengan kebersihan tempat ibadah itu, dengan ikhlas dia jalani, sebari menumpang di sebuah ruangan sebagai tempat dia beristirahat, tidur dan makan.

“Sejak tahun 2005 saya sudah tinggal disini pak, alhamdulillah ini pun sudah diberi izin sama warga disini. Tugas saya ya bersih-bersih dan merapihkan lingkungan mushola ini. Ya kalu dihitung-hitung sih berarti kurang lebih 14 tahun saya sudah tinggal di ruangan mushola ini pak,” jelas Sanaan, Senin (25/11/2019).

Dikatakannya juga, bahwa sebenarnya dia memiliki dua orang anak, satu laki-laki dan satunya lagi perempuan. Namun kedua anaknya itu, diakuinya sudah lebih dari enam tahun tidak pernah ada menengok dirinya ke mushola tersebut. Sementara sang istri sudah lama tidak ada, sehingga Sanaan saat ini hidup seorang diri.

“Pertama anak saya perempuan kedua laki-laki, dua-duanya tinggal di Tanggerang. Dulu sering nengok, tapi ini sudah enam tahun lebih tidak pernah nengok. Mungkin mereka malu pak, soalnya sudah 14 tahun ini saya ini tinggalnya di mushola,” akunya.

Diceritakan Sanaan, bahwa dirinya sebelum tinggal dan mengisi salah satu ruangan, di Mushola Rodotuljanah sebagai tempat istirahat, tidur dan makan. Dia mengaku pernah tinggal di sebuah gubug, di Puncak Gunung Karang, namun karena sulitnya mencari makan, maupun minum, akhirnya Sanaan memutuskan untuk tinggal di mushola.

“Sebelum disini, saya awalnya tinggal disebuah gubug yang ada di gunung karang. Karena sulitnya mencari air, maupun makan, akhirnya saya lebih memilih tinggal disini. Selain tempatnya lebih baik, tinggal di mushola ini pun sebagai sarana saya ibadah pak. Dan yang pasti, saya ga bakalan ketinggalan shalat,” tambah Sanaan.

Dengan raut muka yang muram, ditambah sudut matanya yang mulai terlihat berkaca-kaca. Sanaan kembali menceritakan, bahwa tinggal di mushola itu pun, tidak menjamin kehidupannya lebih baik, bila dibandingkan ketika dia tinggal di puncak gunung. Karena untuk mendapatkan sepiring nasi, diakuinya hanya kenunggu belas kasih orang lain, atau warga sekitar mushola. Bahkan tidak jarang, dirinya lebih memilih untuk berpuasa, lantaran tidak ada makanan.

“Yang pasti setiap harinya saya selalu berniat puasa, apalagi hari Senin dan Kamis. Karena ujtuk mendapatkan makan, saya hanya berharap ada yang memberi pak. Bahkan pernah, tapi sudah lama sih, saya tidak menemukan makan selama satu bulan pak, hanya minum air saja,” papar Sanaan.

Diwaktu bersamaan, Eti Kartini salah seorang warga disekitar mushola tersebut mengatakan, jika Sanaan adalah kakek sebatang kara, yang tidak memiliki saudara maupun istri. Bahkan dua orang anaknya pun, sudah bertahun-tahun tidak pernah melongok, atau menemui Sanaan, atau bapaknya.

“Selama yang saya tahu sih, dia hidup sebatang kara, tidak ada saudara maupun istri. Dia (Sanaan) tinggal di mushola itu, kalau tidak salah sudah lebih dari 10 tahun. Dan sebenarnya Mang Sanaan ini, punya anak dua, laki dan perempuan. Tapi ini sudah lama saya tidak lihat Mang Sanaan dikunjungi sama anak-anak itu,” ungkapnya singkat. (Daday)


Next Post

Antusiasnya Anak-Anak Ikuti Story Telling

Sel Nov 26 , 2019
Kota Tangerang – Terhibur mendengar kisah cerita dari pendongeng lucu. Ratusan siswa antusias mengikuti story telling yang digelar Dinas Perpustakaan […]