Menyambut Hasil Muktamar XIV Pemuda PERSIS 2026: Komitmen Bersama Ulama Hingga Akhir


BANDUNG – Semangat juang dan kesetiaan pada nilai keislaman kembali bergema dalam perhelatan akbar Muktamar XIV Pemuda Persatuan Islam (PERSIS) tahun 2026. Di balik terpilihnya kepemimpinan baru, tersimpan kisah inspiratif tentang kesederhanaan, kerendahan hati, dan tekad kuat untuk terus berpegang teguh pada prinsip dasar: “Ana Muslimun Qabla Kulli Syai-in” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Saya Muslim di atas segalanya”. Prinsip ini kemudian dikenal luas dalam semangat juang yang digaungkan menjadi: “Aku muslim pertama, muslim kedua, dan muslim selamanya”.

Semangat tersebut sesungguhnya bukanlah hal baru. Puluhan tahun silam, di pertengahan tahun 1970-an, sosok legendaris Endang Saifuddin Anshary, M.A.—atau yang akrab disapa Mang Endang—pernah menggemakan motto itu dengan penuh semangat di hadapan puluhan mahasiswa dan mahasiswi anggota Badan Koordinasi (Badko) Alumni Pesantren Persatuan Islam (PPI) Pajagalan Bandung. Sebagai salah satu putra dari tokoh besar PERSIS, K.H.A. Isa Anshary, Mang Endang mewarisi jiwa orator yang luar biasa, sehingga setiap ucapannya terasa menyentuh hati dan membakar semangat para pendengarnya.

Saat itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat PERSIS, Ustaz Abdurrahman, yang hadir dalam acara tersebut menyambut baik semangat itu dengan pesan mendalam. Ia mengubah sebutan “alumni” menjadi “allimni” yang berarti “ajari aku”. Di hadapan para hadirin, Ustaz Abdurrahman menegaskan: “Kamu memang alumni, namun hakikatnya, jadilah orang yang selalu berkata ‘ajari aku’”. Kalimat sederhana namun sarat makna itu seketika membuat suasana menjadi hening. Semua yang hadir menundukkan kepala, merenungkan makna bahwa ilmu pengetahuan dan pembelajaran adalah proses seumur hidup yang tidak boleh berhenti. Pesan itu sejalan dengan nasihatnya yang terkenal: “Kamu harus bertambah ilmu setiap hari”.

Kini, Ustaz Abdurrahman dan Mang Endang telah tiada, begitu pula sejumlah tokoh dan aktivis senior yang turut hadir saat itu, seperti Ustaz Deddy Rahman, Ustaz Entang Mukhtar, Ustaz Hayat Setiawan, Ustaz Ayat Hidayat, hingga Ustaz Sobarna. Meski begitu, semangat juang dan nilai-nilai luhur yang mereka wariskan tetap terpelihara baik, terus dirawat dan dikawal dari generasi ke generasi, hingga kini tetap menjadi landasan gerak Pemuda PERSIS.

Terpilih Tanpa Sorak, Penuh Harap

Dalam muktamar yang berlangsung di sebuah hotel di kawasan Soreang, pada Ahad (26/4/2026), nama Cepi Hamdan Rafiq, S.Th.I., M.Pd. disepakati secara aklamasi sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda PERSIS untuk masa bakti 2026–2031. Pemilihan ini tidak diwarnai sorak-sorai yang riuh, melainkan suasana khidmat dan harap yang menyentuh hati para peserta muktamar. Di tengah wajah-wajah yang tampak lelah setelah melalui perjalanan panjang diskusi, perdebatan, dan musyawarah yang mendalam, nama Cepi muncul sebagai pilihan terbaik untuk memikul amanah besar ini.

Bagi sebagian anak muda saat ini, memimpin organisasi dakwah, ibadah, dan persaudaraan mungkin terdengar sebagai jalan yang sepi dan kurang populer. Di saat banyak pemuda seusianya sibuk membangun karier, mengejar gelar, jabatan, atau kemegahan duniawi, Cepi justru memilih jalan yang berbeda. Jalan yang tidak selalu disinari sorotan lampu panggung, tidak selalu disambut tepuk tangan meriah, namun merupakan jalan panjang yang penuh tantangan dan pengorbanan.

Namun, di situlah letak kemuliaannya. Jabatan ini bukanlah sumber penghasilan atau jalan pintas menuju status sosial tinggi. Kepemimpinan di sini adalah bentuk pengabdian yang tulus, kerja keras yang dilakukan dalam keheningan namun mampu menyalakan cahaya di hati banyak orang. Bagi Cepi, tugas ini adalah tentang menjaga warisan perjuangan leluhur: memastikan Al-Qur’an terus dibaca, dipahami, dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikan As-Sunnah bukan sekadar teks sejarah, melainkan menjadi nafas dan pedoman hidup umat.

Kerendahan Hati di Tengah Amanah Besar

Segera setelah namanya ditetapkan sebagai ketua umum, Cepi melakukan langkah yang menyiratkan kerendahan hati luar biasa. Di malam itu juga, ia mendatangi K.H. Zae Nandang, Ketua Dewan Hisbah Pimpinan Pusat PERSIS, untuk menyampaikan permohonan yang tulus. Peristiwa ini tidak tercatat dalam berita acara maupun notulen rapat, namun menyimpan makna mendalam bagi perjalanan kepemimpinannya ke depan.

Di hadapan ulama besar tersebut, Cepi membungkukkan badan dengan sopan dan berkata: “Bimbing saya, Ustaz! Saya ingin berada di jalan yang benar. Saya mohon ulama senantiasa membimbing setiap langkah saya.”. Permintaan sederhana itu terdengar begitu tulus, persis seperti sikap seorang santri yang siap menerima arahan dan ilmu dari gurunya. Di tengah zaman di mana banyak orang merasa sudah cukup dan mampu berdiri sendiri, sikap Cepi menjadi bukti kelangkaan kerendahan hati yang patut dijadikan teladan.

Baginya, menjadi pemimpin bukan sekadar soal jabatan atau kekuasaan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dijalani di bawah bimbingan para ulama dan ahli ilmu. Ia sadar sepenuhnya bahwa memegang teguh prinsip “Aku muslim di atas segalanya” tidaklah mudah jika tidak memiliki penunjuk arah yang tepat. Oleh karena itu, bimbingan ulama menjadi kompas utama agar langkah organisasi tetap lurus dan tidak menyimpang dari tujuan awalnya.

Sejak malam itu, arah perjuangannya seakan semakin jelas. Ia memegang erat nasihat berharga dari K.H. Zae Nandang yang disampaikan dalam bahasa Sunda: “Sok wae ngalengkah, engke oge katingali” yang berarti “Berjalan saja dulu, nanti kebenarannya pun akan terlihat”. Nasihat itu menjadi penyemangat dan pedoman baginya untuk terus melangkah maju, membawa Pemuda PERSIS semakin kokoh berdiri dengan prinsip utamanya: “Pemuda PERSIS Bersama Ulama, Sampai Akhir”.

Menjaga Akar, Menumbuhkan Cabang

Kini, pertanyaan besarnya bukan lagi soal sosok Cepi Hamdan Rafiq sebagai pribadi, melainkan tentang bagaimana Pemuda PERSIS ke depannya akan melanjutkan perjuangan ini. Sebab, pemuda yang berlari kencang tanpa bimbingan bisa saja tersesat jalan. Sebaliknya, ulama yang diam dan tidak turun tangan membimbing pemuda berisiko kehilangan generasi penerus. Oleh karena itu, peran ulama tidak boleh hanya sekadar mengawasi dari jauh atau memberi nasihat sesekali. Mereka harus hadir lebih dekat, lebih hidup dalam keseharian, dan menjadi penuntun yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para pemuda.

Dakwah yang paling kuat dan berpengaruh sesungguhnya bukanlah yang disampaikan di atas mimbar, melainkan keteladanan yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ulama menjaga akhlak dan nilai-nilai luhur, para pemuda akan meniru dengan sendirinya tanpa perlu diperintah. Ada ungkapan bijak yang menyebutkan: “Ulama menjaga akar, pemuda menumbuhkan cabang”. Jika akarnya kuat dan kokoh, maka cabang-cabangnya akan tumbuh menjulang tinggi ke langit, menjadikan pohon organisasi ini tetap rindang dan lestari untuk waktu yang panjang. Harapannya, dari bimbingan yang terus-menerus dilakukan ini, kelak akan lahir para ulama dan tokoh muda baru yang tangguh, yang kembali akan mengawal dan membimbing generasi berikutnya.

Dalam perjalanan panjang ini, ada satu kalimat abadi yang pernah disampaikan oleh Ustaz Abdurrahman kepada para lulusan baru Muallimin tahun 1976 yang berkunjung ke kediamannya di Gang Hassan, Bandung. Saat itu, dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, beliau berkata: “Hidup kita ini hakikatnya adalah saling mengantarkan… Dulu saya diantarkan oleh guru-guru saya, sekarang giliran saya mengantarkan kamu, dan kelak kamu pun akan mengantarkan murid-muridmu. Begitulah seterusnya.”.

Kalimat menyentuh hati itu menggambarkan makna kehidupan dan perjuangan yang sesungguhnya. Cepi dan kawan-kawan muda PERSIS hari ini, sesungguhnya adalah mereka yang telah diantarkan dan diwarisi semangat oleh para pendahulu. Kini, giliran merekalah yang merancang hari esok, bersiap mengantarkan dan mewariskan semangat juang yang sama kepada generasi muda yang akan datang. Hidup ini adalah tentang saling mengantarkan, dan yang terpenting adalah apa yang mampu kita wariskan untuk masa depan.
Oleh: Dean Al-Gamereau