KOTA TANGERANG – Pukul 09.30 WIB, bel istirahat berbunyi. Biasanya, suara riuh anak-anak langsung memenuhi kantin kecil di sudut sekolah itu. Namun pagi ini, hanya terdengar derit kursi plastik dan sendok yang beradu pelan di mangkuk mi instan yang tak kunjung habis terjual.
Di balik etalase sederhana, Siti (45), pedagang kantin yang sudah 12 tahun berjualan tersenyum tipis.
“Sekarang anak-anak sudah dapat makan gratis. Jadi yang beli paling cuma minum atau jajanan kecil,” ujarnya pelan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang membawa harapan baru bagi siswa. Anak-anak tak lagi belajar dalam keadaan lapar. Orang tua pun merasa terbantu. Namun bagi sebagian pedagang kecil seperti Siti, perubahan itu terasa cepat dan sunyi.
“Dulu bisa habis 80 sampai 100 porsi nasi uduk. Sekarang paling 20–30 saja. Kadang malah kurang dari itu,” katanya.
Bertahan di Tengah Perubahan
Siti tidak menolak program tersebut. Ia justru mengaku senang melihat anak-anak makan dengan menu yang lebih lengkap.
“Bagus sebenarnya. Anak-anak jadi sehat,” ucapnya.
Namun, ia berharap ada ruang bagi pedagang kantin untuk ikut dilibatkan.
“Kalau bisa kami juga diajak masak untuk program itu. Jadi tetap ada pemasukan,” tambahnya.
Kondisi serupa dirasakan beberapa pedagang lain. Mereka mulai mengurangi stok, memangkas menu, bahkan ada yang memilih tutup lebih awal karena pembeli tak lagi seramai dulu.
Sejumlah guru menyebutkan, jika pengelolaan MBG bisa melibatkan koperasi sekolah atau kantin setempat, manfaatnya akan lebih merata. Selain memenuhi kebutuhan gizi siswa, roda ekonomi kecil di lingkungan sekolah juga tetap berputar.
“Kalau koperasi dilibatkan, uangnya kembali ke sekolah dan masyarakat sekitar,” ujar salah satu pengurus sekolah yang enggan disebutkan namanya.
Bagi Siti, setiap hari kini adalah soal bertahan. Ia masih membuka kantin seperti biasa, menata gorengan hangat dan termos teh manis, meski tahu tak semua akan habis terjual.
“Saya cuma berharap ada solusi. Jangan sampai kami yang kecil ini ikut tenggelam,” katanya, sambil merapikan uang receh di laci kayu.
Program yang diniatkan untuk memperkuat generasi bangsa tentu membawa niat baik. Namun di sudut kantin sekolah yang mulai lengang, ada cerita lain yang juga layak didengar, tentang para pedagang kecil yang berharap tetap bisa menjadi bagian dari perubahan, bukan sekadar penonton.
(zher).



