TANGERANG — Upaya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya air terus dilakukan UPTD Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidurian-Cisadane. Salah satunya melalui pengembangan Sistem Monitoring Operasi dan Pemeliharaan (SiMonOP) yang diarahkan untuk memperkuat pengelolaan data hidrologi dan kondisi infrastruktur sumber daya air.
Pengembangan sistem tersebut menjadi bagian dari langkah UPTD dalam mendorong tata kelola yang lebih modern, terukur, serta berbasis data. Informasi hasil pemantauan di lapangan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam menentukan langkah operasi dan pemeliharaan.
Kasi Operasi dan Pemeliharaan UPTD DAS Cidurian-Cisadane, Nanang Fitriana mengatakan pengelolaan sumber daya air membutuhkan data yang akurat dan diperbarui secara berkala. Menurutnya, sistem monitoring menjadi instrumen penting untuk memastikan kondisi lapangan dapat diketahui secara lebih cepat.
“SiMonOP ini kami kembangkan untuk membantu proses monitoring dan pengelolaan data operasi serta pemeliharaan. Dengan data yang terdokumentasi, kami bisa lebih mudah melakukan evaluasi dan menentukan tindak lanjut di lapangan,” ujar Nanang, Jumat (15/8/2026).
Ia menjelaskan, data yang dihimpun tidak hanya berkaitan dengan kondisi sungai, tetapi juga dapat mencakup berbagai informasi terkait infrastruktur dan sumber daya air yang berada dalam wilayah kerja UPTD.
“Prinsipnya kami ingin setiap kegiatan memiliki data dan dokumentasi yang jelas. Ini penting bukan hanya untuk internal, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun pengelolaan sumber daya air yang lebih transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.
Menurut Nanang, keterbukaan data juga memiliki manfaat bagi masyarakat. Informasi hidrologi dan kondisi sumber daya air dapat menjadi salah satu referensi untuk memahami kondisi lingkungan serta potensi perubahan yang terjadi di wilayah DAS.
“Data hidrologi itu sangat penting. Masyarakat, pemerintah, maupun pihak terkait membutuhkan informasi yang dapat dipercaya untuk melihat kondisi sumber daya air. Karena itu, kami terus berupaya meningkatkan kualitas pencatatan, pemantauan, dan pengelolaan datanya,” ungkapnya.
Selain mendukung transparansi, penerapan sistem monitoring juga diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pekerjaan operasi dan pemeliharaan. Dengan dokumentasi yang lebih terstruktur, potensi persoalan di lapangan dapat diidentifikasi lebih awal sehingga penanganannya bisa dilakukan secara lebih tepat.
Nanang menegaskan bahwa digitalisasi bukan sekadar mengubah pencatatan manual menjadi sistem elektronik. Lebih dari itu, SiMonOP diarahkan untuk membangun budaya kerja yang mengedepankan ketepatan data, dokumentasi, evaluasi, dan tindak lanjut.
“Kami ingin data yang ada benar-benar menjadi dasar dalam bekerja. Jadi bukan hanya sekadar tersimpan, tetapi bisa digunakan untuk evaluasi dan menentukan prioritas penanganan,” tegasnya.
UPTD DAS Cidurian-Cisadane berharap pengembangan SiMonOP dapat terus disempurnakan sesuai kebutuhan di lapangan. Dengan dukungan teknologi dan sumber daya manusia, pengelolaan DAS diharapkan semakin efektif sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
“Tujuan akhirnya tentu bagaimana pengelolaan sumber daya air bisa semakin baik. Kami akan terus melakukan pembenahan, baik dari sisi sistem, data maupun pelaksanaan operasi dan pemeliharaan di lapangan,” pungkas Nanang.



