KORANTANGERANG.COM-Menutup akhir Tahun 2025, Lembaga Pemasyarakatan Banjar melaksanakan kegiatan keagamaan berupa peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan istigosah, doa bersama menyambut Tahun Baru 2026, serta Wisuda Santri Pondok Pesantren Ruhhul Qudsi Lapas Banjar. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu (31/12) bertempat di Masjid Baiturrahman Al-Munibin Lapas Banjar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian warga binaan, khususnya dalam penguatan nilai-nilai spiritual, akhlak, dan moral sebagai bekal perubahan perilaku yang lebih baik selama menjalani masa pidana. Melalui pendekatan keagamaan, Lapas Banjar berkomitmen menghadirkan pembinaan yang berkelanjutan dan bermakna bagi warga binaan.
Acara dihadiri oleh Kepala Lapas Banjar, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjar, Bimas Islam Polres Banjar, pengurus Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banjarsari, pengurus Pondok Pesantren Ittihadul Ummah Patimuan Cilacap, pejabat struktural, serta pegawai Lapas Banjar. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi wujud sinergi lintas instansi dalam mendukung pembinaan keagamaan di lingkungan pemasyarakatan.
Sebanyak 30 orang santri Pondok Pesantren Ruhhul Qudsi diwisuda dalam kegiatan tersebut, yang disaksikan oleh warga binaan dengan pengawasan dan pendampingan petugas. Wisuda ini menjadi simbol keberhasilan proses pembinaan kepribadian berbasis pesantren, sekaligus motivasi bagi warga binaan lainnya untuk terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
Dalam sambutannya, Kepala Lapas Banjar, Tutut Prasetyo menegaskan bahwa pembinaan kepribadian melalui kegiatan keagamaan merupakan fondasi penting dalam proses pemasyarakatan. Diharapkan, melalui pembinaan spiritual yang konsisten, warga binaan mampu melakukan introspeksi diri, memperbaiki perilaku, serta siap kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia.
Kegiatan ini sekaligus menjadi refleksi akhir tahun bagi seluruh warga binaan dan jajaran Lapas Banjar, dengan harapan nilai-nilai religius yang ditanamkan dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari proses perubahan positif menuju pemasyarakatan yang humanis dan berorientasi pada pemulihan kepribadian.(Red).



