Cegah Perilaku Seksual Berisiko pada Anak, 104 Kader PUSPAGA Tangerang Dibekali Pemahaman Psikologi


Kota Tangerang — Pemerintah Kota Tangerang melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) memperkuat kapasitas kader dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi anak dan keluarga di tengah perkembangan zaman.

Salah satu perhatian utama dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Kader PUSPAGA yang digelar di Ruang Al Amanah, Kota Tangerang, Senin (7/9/2026), adalah upaya mencegah perilaku seksual berisiko pada anak serta meningkatkan pemahaman terhadap kondisi psikologis dan tumbuh kembang anak.

Kegiatan tersebut diikuti 104 Kader PUSPAGA dari 13 kecamatan, serta Satuan Tugas (Satgas) Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) dari 13 kecamatan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Tangerang untuk memperkuat peran kader sebagai agen perubahan di tengah masyarakat, khususnya dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada keluarga.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangerang, Tihar Sopian, mengatakan kader PUSPAGA merupakan ujung tombak pemerintah dalam memberikan edukasi kepada keluarga.

“Kader PUSPAGA adalah ujung tombak kami di tengah masyarakat. Keluarga adalah fondasi utama ketahanan kota. Oleh karena itu, kapasitas kader harus terus ditingkatkan,” ujar Tihar.

Menurut Tihar, persoalan pengasuhan dan perlindungan anak semakin kompleks. Karena itu, kader harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk membantu keluarga mengenali persoalan sejak dini.

“Kami ingin kader tidak hanya sekadar memberikan penyuluhan, tetapi mampu menjadi konselor dasar dan agen perubahan yang efektif, yang dapat melakukan pendekatan persuasif dan tepat sasaran kepada orang tua dan keluarga di lingkungan mereka,” katanya.

Cegah Perilaku Seksual Berisiko Sejak Dini

Dalam kegiatan tersebut, perhatian juga diarahkan pada pentingnya edukasi kepada keluarga mengenai pencegahan perilaku seksual berisiko pada anak.

Materi tersebut disampaikan oleh Yulisza Syahtiani, S.Pd., M.Si., yang memberikan pemahaman kepada para kader mengenai pentingnya membangun komunikasi dan edukasi yang sesuai dengan usia anak.

Pembekalan ini menjadi penting karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang memiliki peran dalam membentuk pemahaman anak mengenai batasan diri, relasi yang sehat serta perlindungan terhadap dirinya.

Kader PUSPAGA diharapkan mampu membantu orang tua membangun komunikasi yang terbuka dengan anak sehingga berbagai persoalan dapat dibicarakan sejak dini dan tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Pendekatan pencegahan juga diarahkan agar orang tua tidak hanya memberikan larangan, tetapi mampu memberikan pemahaman kepada anak dengan bahasa yang sesuai usia dan perkembangan mereka.

Psikologi Anak Jadi Bekal Kader

Selain materi mengenai pencegahan perilaku seksual berisiko, para kader juga mendapatkan pembekalan mengenai psikologi anak.

Materi psikologi anak disampaikan oleh Nurhasanah, S.Psi., M.Psi.

Pemahaman psikologi anak menjadi bagian penting dalam meningkatkan kemampuan kader ketika berinteraksi dengan anak maupun orang tua.

Dengan memahami karakteristik dan tahapan perkembangan anak, kader diharapkan dapat melakukan pendekatan yang lebih tepat ketika menemukan persoalan di lingkungan masyarakat.

Hal tersebut juga sejalan dengan penekanan Tihar mengenai pentingnya memahami tugas-tugas perkembangan anak.

“Dengan pemahaman tugas-tugas perkembangan anak, intervensi yang diberikan akan lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan usia anak,” tegas Tihar.

Pemahaman tersebut diharapkan membuat kader tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap perilaku anak. Sebaliknya, kader dapat membantu keluarga melihat persoalan berdasarkan kondisi, usia dan kebutuhan perkembangan anak.

Kader Didorong Jadi Agen Perubahan

Sebanyak 104 kader yang mengikuti kegiatan tersebut diharapkan dapat membawa pengetahuan yang diperoleh ke lingkungan masing-masing.

Kader PUSPAGA memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada keluarga, termasuk mengenai pola pengasuhan positif, komunikasi orang tua dan anak, psikologi anak serta upaya pencegahan berbagai perilaku yang dapat membahayakan masa depan anak.

Tihar menegaskan, peningkatan kapasitas kader harus berdampak langsung kepada masyarakat.

“Kami ingin kader harus dapat meningkatkan pemahaman keluarga tentang peran strategis PUSPAGA dalam mendukung ketahanan keluarga serta mengasah keterampilan komunikasi dan konseling dasar agar dapat melakukan pendekatan yang efektif kepada setiap keluarganya,” tutup Tihar.

Melalui penguatan kapasitas tersebut, Pemerintah Kota Tangerang berharap kader PUSPAGA dapat menjadi garda terdepan dalam membangun keluarga yang harmonis, melakukan pencegahan sejak dini dan menciptakan lingkungan yang aman serta ramah bagi anak.

Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat secara bersama-sama.

Dengan edukasi yang tepat, komunikasi yang terbuka dan pemahaman terhadap psikologi anak, berbagai persoalan dapat dikenali serta dicegah sedini mungkin sebelum memberikan dampak yang lebih luas terhadap tumbuh kembang anak.(ADV)


Next Post

Ketum PERADI ProfesionaI: RUU Perampasan Aset Harus Lindungi Harta Sah dan Pihak Ketiga

Sen Sep 7 , 2026
JAKARTA — Komisi III DPR RI kembali menggelar rapat bersama sejumlah pakar untuk membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset.