TANGERANG, 25 Mei 2026 – Tim Kementerian Sekretariat Negara bersama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan melaksanakan kunjungan kerja ke sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di wilayah Banten, Senin (25/5). Kunjungan tersebut bertujuan meninjau secara langsung pelaksanaan program pembinaan, pelayanan pemasyarakatan, serta program ketahanan pangan yang menjadi bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan 15 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Lapas Kelas IIA Tangerang. Di lokasi ini, tim meninjau berbagai hasil pembinaan kemandirian warga binaan berupa produk kerajinan tangan, seperti tas dan souvenir yang memiliki nilai ekonomi dan diproduksi langsung oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Program tersebut menjadi salah satu upaya pembekalan keterampilan bagi warga binaan sebagai persiapan reintegrasi sosial setelah kembali ke masyarakat.
Plh. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Banten, *Muhamad Khapi*, menyampaikan bahwa pembinaan kemandirian merupakan salah satu instrumen penting dalam membangun sumber daya manusia yang produktif dan mandiri.
“Program pembinaan yang dijalankan di seluruh UPT Pemasyarakatan Banten tidak hanya berorientasi pada pembentukan karakter, tetapi juga penguatan keterampilan kerja yang dapat menjadi bekal bagi warga binaan ketika kembali ke tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan Pemasyarakatan yang humanis, produktif, dan berdampak,” ujarnya.
Kunjungan kemudian berlanjut ke Bapas Kelas I Tangerang. Tim meninjau fasilitas pelayanan, pelaksanaan tugas Pembimbing Kemasyarakatan, serta Griya Abhipraya sebagai sarana pembimbingan dan reintegrasi sosial. Selain itu, rombongan juga melihat secara langsung pengelolaan peternakan ayam petelur dan budidaya lele yang menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat dan klien pemasyarakatan.
Di Lapas Kelas I Tangerang, tim meninjau berbagai program pembinaan produktif, termasuk *Jawara Beton*, produk unggulan yang dikembangkan sebagai wujud pembinaan keterampilan kerja berbasis industri. Program tersebut dinilai mampu memberikan pengalaman kerja nyata sekaligus meningkatkan produktivitas warga binaan melalui kegiatan yang bernilai ekonomi.
Rangkaian kunjungan ditutup di Lapas Terbuka Kelas IIB Ciangir. Di lapas yang dikenal sebagai sentra pembinaan berbasis ketahanan pangan tersebut, tim meninjau pengelolaan peternakan ayam petelur dan sektor pertanian yang dikelola bersama warga binaan. Program tersebut tidak hanya mendukung pembinaan kemandirian, tetapi juga berkontribusi terhadap upaya penguatan ketahanan pangan nasional.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa seluruh jajaran Pemasyarakatan harus mampu menghadirkan program pembinaan yang produktif, berdampak, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pemasyarakatan harus menjadi bagian dari solusi pembangunan nasional melalui pembinaan yang menghasilkan sumber daya manusia berkualitas, produktif, dan siap kembali ke masyarakat,” tegas Menteri Agus.
Muhamad Khapi menambahkan bahwa kunjungan Tim Sekretariat Negara menjadi momentum penting untuk menunjukkan berbagai inovasi dan capaian pembinaan yang telah dikembangkan UPT Pemasyarakatan di Banten.
“Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan program pembinaan kemandirian, ketahanan pangan, dan reintegrasi sosial secara berkelanjutan. Melalui sinergi seluruh pihak, Pemasyarakatan dapat memberikan kontribusi yang semakin nyata bagi pembangunan nasional,” katanya.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Hasil peninjauan akan menjadi bahan evaluasi dan penguatan program guna meningkatkan kualitas layanan serta pembinaan di lingkungan Pemasyarakatan, khususnya di wilayah Banten.



