Alhamdulillah dan Doa
Pesawat Turkish Airlines mulai melesat meninggalkan langit Kota Istanbul, Turkiye, suatu malam menjelang dini hari. Pesawat berkode penerbangan TK56 itu memang perlahan mengangkat tubuhnya, lepas landas dari Bandara Havalimani Istanbul menuju Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang.
Lampu-lampu Kota Istanbul perlahan tampak kian mengecil di balik jendela, seiring dengan kian tingginya pesawat. Ribuan kilometer lagi untuk sampai ke tanah air. Kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang memang sudah dimulai, dan yakin setelah nama-nama ada di daftar manifes penerbangan. Tiket dan paspor pun sudah ada di tangan.
Di dalam pesawat, duduk di kursi nomor berapan pun, ada keamanan dan ketenangan. Tak akan terdengar lagi ancaman, penyiksaan, tetapi suara halus pramugari yang cantik dan ramah menawarkan minuman sambil tersenyum.
Untuk kali pertama setelah hari-hari penuh ketegangan, apalagi saat dihadang (diculik) militer Israel, di perairan internasional, mereka kini percaya benar-benar sedang pulang menuju tanah air.
Saat pesawat Turkish Airlines mulai bergerak itu, mungkin sebagian dari mereka menoleh ke jendela. Bukan untuk menikmati lampu Kota Turkiye, melainkan untuk bersyukur mengucap alhamdulillah…dan tetap dengan doa, “Free Palestine..”.
Di Bandara Soekarno-Hatta
Ahad sore, sekitar waktu asar (24/5/27), sembilan aktivis kemanusiaan dan wartawan Indonesia peserta misi Global Sumud Flotilla 2.0 itu tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka menempuh penerbangan panjang lebih dari 12 jam.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyambut mereka secara langsung. di Bandara. “Selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga,” katanya. Kalimat itu sederhana. Namun sore itu, ia terdengar lebih hangat dari pidato panjang yang berapi-api.
Langit Bandara terasa cerah. Di Terminal 3, tempat pergi pulang penumpang itu, pintu kedatangan internasional benar-benar terbuka.
Satu per satu, sembilan anak bangsa yang terdiri dari aktivis kemanusiaan dan wartawan itu muncul. Wajah-wajah yang beberapa hari terakhir hanya terlihat di media massa dan media sosial, kini benar-benar kembali menginjak tanah air.
Ada keluarga yang akhirnya bisa menyentuh kembali pundak anaknya. Ada istri yang akhirnya bisa memastikan suaminya benar-benar masih hidup. Ada sahabat yang kini bisa tertawa lepas setelah berhari-hari hanya mampu cemas. Ada pelukan hangat, jabat tangan erat, dan bahkan kelopak mata jadi telaga.
Para aktivis dan wartawan masih mengenakan keffiyeh hitam-putih di leher mereka. Kain ini amat sederhana, tetapi sudah puluhan tahun jadi lambang ketabahan bangsa Palestina.
Keffiyeh tampak melekat dengan perjalanan panjang, dan terasa lebih hidup ketika pekik free Palestine dan gema takbir pecah, seperti ombak panjang yang kemudian menemukan pantainya.
Soal keffiyeh, suatu hari, seorang wartawan Tempo, Praginanto, ditugasi mewawancarai Ketua PLO (Yasser Arafat) di Palestina. Praginanto diberi hadiah keffiyeh. Tampak, Yasser Arafat memakaikan syal khas perjuangan rakyat Palestina itu di kepala Praginanto. Lalu, rekan-rekan wartawan Tempo menyebut Praginanto jadi Abu Gigin.
Berjuang Menjaga Nurani
Para aktivis dan wartawan pulang bukan dari perjalanan wisata. Mereka pulang dari laut yang dicegat senjata militer Israel.
Padahal, sembilan anak bangsa dari tanah air ini bukan tentara, tak membawa senjata apa pun, sama seperti anak bangsa lainnya dari berbagai negera.
Mereka akhirnya memang bisa pulang setelah melewati malam-malam interogasi. Ruang tempat mereka ditahan, penjara Ketziot, menyimpan ketakutan dan rasa sakit yang luar biasa.
Namun, yang tampak kemudian di wajah-wajah aktivis dan wartawan itu, justru kelelahan yang teduh, tegar, seperti orang-orang yang baru selesai memelihara amanah.
Bandara Soekarno-Hatta mendadak berubah, bukan sekadar tempat kedatangan, melainkan juga jadi ruang syukur. Bagi sembilan anak bangsa ini, boleh jadi, Indonesia sore ini terasa berbeda, lebih indah.
Tanah air memang tidak selalu lebih kaya dari negeri lain.Tidak selalu lebih tenang. Tidak selalu lebih adil. Namun, setelah ancaman, penyergapan, dan penahanan, aroma udara negeri sendiri terasa seperti pelukan. Mungkin begitulah rasanya setelah mereka pulang.
Mereka datang membawa cerita luka. Juga, mereka membawa sesuatu yang lebih besar : bahwa kemanusiaan ternyata masih sanggup berlayar. Bahkan, ketika dunia dipenuhi ketakutan.
Sore itu, di bawah langit Kota Tangerang yang mulai redup, sembilan anak bangsa ini kembali pulang. Bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai anak bangsa yang berjuang menjaga nurani.
Bantuan internasional yang diangkut dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 itu, terdiri dari makanan, obat-obatan, susu bayi, dan lain-lain. Kini, bantuan kemanusiaan yang berton-ton itu, kabarnya, masih tertahan di Pelabuhan Ashdod, Israel.
Kesembilan aktivis dan wartawan itu, masing-masing. Andi Angga Prasadewa, Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, Thoudy Badai, Bambang Noroyono (Abeng), Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Asad Aras Muhammad, dan Hendro Prasetyo.
Di antara mereka ada yang membawa kamera dan buku untuk mencatat 5W dan 1H. Sebagian lagi membawa keyakinan, bahwa kemanusiaan tidak boleh berhenti hanya karena laut dijaga militer dengan senjatanya yang mematikan. (Dean Al-Gamereau)


