Jakarta – Semarak dan kehangatan menyelimuti kawasan pusat kota Jakarta pada hari Minggu ini. Ratusan orang berjalan beriringan, tertawa, dan saling menyapa dalam kegiatan Fun Walk World Press Freedom Day, acara jalan santai peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diselenggarakan oleh Dewan Pers. Di antara kerumunan itu, anggota dan pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), baik dari tingkat pusat maupun daerah, tampak kompak hadir dan menjadi bagian penting dari perayaan yang penuh makna ini.
Acara ini bukan sekadar kegiatan olahraga ringan, melainkan ajang silaturahmi yang menyatukan berbagai kalangan. Pesertanya terdiri dari jurnalis, pengurus organisasi pers, mahasiswa jurusan komunikasi dan jurnalistik, hingga warga masyarakat umum yang peduli terhadap kebebasan pers. Sesuai ajakan yang disampaikan SMSI Pusat, kegiatan ini dibuka seluas-luasnya untuk lingkungan keluarga. Banyak peserta yang datang ditemani istri, suami, anak-anak, maupun kerabat dekat, sehingga suasana terasa lebih akrab dan penuh kehangatan kekeluargaan.
“Kami menginginkan acara ini menjadi tempat berkumpul yang menyenangkan, tidak hanya untuk rekan-rekan di dunia pers, tetapi juga bagi orang-orang tercinta di sisi mereka. Pengurus dan anggota kami sangat kami anjurkan membawa keluarga, agar rasa persaudaraan dan kebersamaan yang selama ini terjalin semakin kuat dan terasa nyata,” ujar salah satu perwakilan SMSI Pusat yang turut hadir dan memantau jalannya kegiatan dari awal hingga akhir.
Kemeriahan acara semakin memuncak saat tiba sesi pembagian hadiah hiburan. Panitia telah menyiapkan puluhan hadiah menarik yang dibagikan secara undian kepada peserta yang beruntung. Namun, yang paling dinanti dan menjadi sorotan seluruh hadirin tentu saja hadiah utamanya: sebuah sepeda motor listrik yang bernilai tinggi dan menjadi incaran banyak orang yang hadir.
Ketika nomor undian pemenang hadiah utama dibacakan di panggung utama, suasana seketika menjadi hening, lalu meledak dengan sorak-sorai riang. Pemenangnya bukan orang dewasa atau tokoh yang dikenal luas, melainkan seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar, yaitu Rindu Alya Dewina Mariam. Kabar ini membuat hati siapa saja yang mendengarnya terasa tersentuh dan bahagia.
Rindu mengaku, sepeda motor listrik memang sudah menjadi benda yang sangat ia inginkan sejak lama. Ia sering menceritakan keinginannya itu kepada ayah dan ibunya, namun permintaan tersebut belum bisa dikabulkan. Alasannya cukup wajar, menurut orang tua Rindu, anak mereka masih terlalu kecil dan belum waktunya memiliki kendaraan bermotor, meskipun jenisnya adalah motor listrik yang dinilai lebih aman dan ramah lingkungan.
“Sejak bangun pagi dan berangkat ke sini, saya terus berdoa dengan sungguh-sungguh. Saya memohon kepada Allah agar doa dan harapan saya dikabulkan. Rasanya saya sudah tidak sabar mendengar nomor saya dipanggil. Alhamdulillah, ternyata doa saya didengar dan dikabulkan. Saya sangat senang dan bersyukur sekali,” kata Rindu dengan mata berbinar-binar dan senyum yang tak lepas dari wajahnya saat namanya diumumkan sebagai pemenang.
Tanpa menunggu lama, Rindu langsung berlari ke arah ayahnya yang berdiri tidak jauh dari sana. Ia memegang tangan ayahnya, Iwan Jamaluddin, yang juga menjabat sebagai pengurus di jajaran SMSI Pusat, lalu mengajaknya naik ke atas panggung untuk bersama-sama menerima hadiah yang telah lama diimpikan itu.
Bagi Iwan, momen itu menjadi hal yang sangat berharga dan menyentuh hati. Ia mengaku merasa terharu dan bangga melihat kebahagiaan yang terpancar begitu jelas dari wajah putri kesayangannya. Meski awalnya belum berniat membelikan kendaraan tersebut untuk Rindu, kemenangan ini diterimanya sebagai sebuah berkah dan kebahagiaan tak terduga bagi keluarga.
“Saya melihat betapa bahagianya Rindu saat itu, rasanya hati saya pun ikut terasa penuh dengan kebahagiaan. Tentu saya bersyukur atas rezeki yang datang kepada putri saya ini. Namun, di sisi lain, saya berpesan dan berharap hal ini bisa menjadi semangat serta motivasi yang baik bagi dirinya. Semoga Rindu menjadi anak yang semakin rajin belajar di sekolah, mendapatkan nilai yang memuaskan, dan juga rajin membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah ketika sedang libur sekolah atau waktu luang,” ujar Iwan dengan nada yang lembut namun penuh harapan.
Setelah serangkaian acara selesai dan para peserta mulai berpulang dengan perasaan puas dan gembira, Rindu masih tampak bersemangat dan senang. Sebagai penutup, ia menyampaikan harapan yang tulus kepada penyelenggara, yaitu Dewan Pers. Menurutnya, kegiatan seperti ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memiliki makna yang besar dalam menjembatani hubungan antara masyarakat luas dengan para pekerja pers.
“Acara hari ini sangat seru dan menyenangkan sekali. Rasanya senang bisa jalan-jalan santai sambil berkumpul bersama ayah, ibu, dan orang-orang baru yang saya kenal di sini. Semoga saja Dewan Pers bisa terus mengadakan acara serupa di tahun-tahun yang akan datang, ya. Supaya makin banyak orang yang kenal dan dekat dengan para wartawan dan orang-orang yang bekerja di dunia pers,” tutup Rindu sambil tersenyum lebar, membawa pulang kenangan manis dan hadiah yang menjadi kebanggaannya.
Kegiatan ini pun berakhir dengan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Selain sebagai wujud perayaan atas kebebasan pers yang menjadi pilar demokrasi, acara ini juga menjadi bukti bahwa nilai kebersamaan, keluarga, dan harapan baik bisa tumbuh dan terjalin erat di tengah masyarakat dan insan pers Indonesia. (*)



