KOTA TANGERANG – Pemerintah Kota Tangerang menyatakan telah menuntaskan perbaikan sejumlah lubang di beberapa jalan , menggunakan material aspal coldmix. Beberapa titik lubang besar disebut telah ditangani sebagai respons atas keluhan masyarakat di musim penghujan.
Namun penelusuran di lapangan menunjukkan, perbaikan tersebut hanya menyasar sebagian kecil dari keseluruhan kerusakan. Di ruas yang sama maupun di jalan utama lain seperti Jalan Otto Iskandar Dinata, Jalan Marsekal Suryadarma, hingga Jalan Bayur, kondisi jalan masih ditemukan berlubang panjang, retak menyebar, bahkan di beberapa titik membahayakan pengendara roda dua.
Di Jalan Bayur, misalnya, kerusakan tidak lagi berupa lubang kecil terpisah, melainkan retakan memanjang yang mengindikasikan melemahnya struktur lapisan aspal. Kondisi serupa juga terlihat di sejumlah titik di Otto Iskandar Dinata yang belum tersentuh perbaikan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah pola pemeliharaan jalan di Kota Tangerang sudah berjalan sesuai fungsi nya?.
Secara struktural, Bidang Operasional dan Pemeliharaan pada Dinas PUPR memiliki tugas melakukan pemeliharaan rutin, inspeksi berkala kondisi jalan, penanganan kerusakan ringan hingga sedang, serta memastikan infrastruktur tetap dalam kondisi aman dan laik fungsi.

Artinya, secara sistem, kerusakan parah seharusnya bisa dicegah sejak dini melalui pemeliharaan rutin sebelum berkembang menjadi lubang besar dan retakan panjang.
Jika kerusakan sampai meluas dan dikeluhkan di banyak ruas utama, publik wajar mempertanyakan efektivitas sistem monitoring yang berjalan. Apakah pengawasan dilakukan secara periodik berbasis data teknis? Atau perbaikan lebih banyak dilakukan setelah muncul keluhan dan sorotan?
Penggunaan aspal coldmix memang lazim untuk penanganan cepat, terutama saat musim hujan. Namun metode ini umumnya bersifat sementara. Tanpa perbaikan struktural seperti overlay menyeluruh atau perkuatan lapisan dasar, tambalan berpotensi kembali rusak dalam waktu relatif singkat, apalagi pada ruas dengan beban kendaraan tinggi.
Pola tambal sulam yang terlihat di sejumlah titik memunculkan kesan penanganan reaktif, bukan preventif. Bahkan muncul anggapan di kalangan warga bahwa perbaikan hanya difokuskan pada lubang-lubang yang paling mencolok atau yang sudah viral.
Selain faktor teknis, muncul pula pertanyaan mengenai kecukupan dan efektivitas anggaran pemeliharaan. Apakah alokasi dana cukup untuk penanganan menyeluruh? Atau justru terbagi ke banyak titik sehingga hasilnya menjadi parsial?
Transparansi data mengenai daftar prioritas perbaikan, metode yang digunakan, serta target jangka panjang menjadi penting agar publik tidak hanya menerima klaim “tuntas”, tetapi juga memahami rencana strategis yang sedang dijalankan.
Di tengah tingginya curah hujan dan mobilitas kendaraan, kondisi jalan rusak bukan sekadar persoalan estetika infrastruktur. Lubang yang tertutup genangan dapat menjadi jebakan bagi pengendara, terutama roda dua.
Percepatan perbaikan memang patut diapresiasi. Namun jika kerusakan parah terus ditemukan di berbagai ruas utama, maka evaluasi menyeluruh terhadap sistem operasional dan pemeliharaan menjadi kebutuhan mendesak.
Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya citra kinerja, melainkan keselamatan masyarakat setiap hari di jalan raya.(zher)



