Saija-Adinda, Kisah Kasih dari Hutan Jati


Korantangerang.com – “Tunggulah aku di hutan jati, di bawah ketapang, tempat kau memberiku kembang melati,” pinta sang jejaka kepada sang gadis kekasihnya.

“Tetapi, kapan aku harus menunggumu di bawah ketapang itu?” sang gadis balik tanya.

“Aku akan pergi tiga kali dua belas bulan. Buatlah garis pada lesungmu setiap bulan baru. Sehari setelah itu, aku akan menunggumu di bawah ketapang. Berjanjilah bahwa kau akan menungguku di sana,” jawab sang jejaka.

”Ya, aku akan menunggu di bawah ketapang, di hutan jati,” jawab sang gadis.

Lalu, berpisahlah mereka. Sebelumnya, sang jejaka ini menyobek ikat kepalanya yang berwarna biru, yang sudah lusuh, kemudian diberikannya kepada sang gadis kekasihnya yang segera ditinggalkannya itu. Sobekan ikat kepala ini, boleh jadi, sebagai simbol sumpah setia. Janji hidup bahagia, sehidup semati.

Memang, mereka berjanji, kalau sudah punya dua ekor kerbau, akan hidup berumah tangga. Untuk mendapatkan dua ekor kerbau itu, sang jejaka harus mengembara dulu ke Batavia (Jakarta), bekerja jadi pemelihara kuda milik orang Belanda. Adinda berjihad menyiapkan bekal berumah tangga.

Sang kekasih di desa akan terus menunggu dan menunggu, sambil terus menekuni pekerjaan sehari-hari, menumbuk padi dengan alu di atas lesung, di tengah udara sejuk perkampungan hutan jati. Hidup berumah tangga seperti sudah di depan mata, seperti tinggal menghitung hari.

Akhir perjalanan hidup Saija (sang jejaka) dan Adinda (sang gadis), apakah seperti yang mereka rencanakan, hidup jadi pengantin dengan bekal dua ekor kerbau?

Eduard Douwes Dekker atau lebih kita kenal dengan nama samaran Multatuli, dalam Max Havelaar, melukiskannya gagal, tragis karena ketika Saija pulang, Adinda sudah tiada, dengan luka di sekujur tubuhnya. Saija merana, hutan jati pun berduka. Adinda dibunuh tentara penjajah Belanda dalam sebuah pertempuran.

Saija akhirnya terbunuh pula dengan bayonet di tangannya. Tentara penjajah Belanda menghancurkan, sekaligus menguburkan cita dan cinta hutan jati Saija dan Adinda.

Sebuah episode kisah kasih itu, setidak-tidaknya, punya pesan moral untuk mereka yang siap-siap berumah tangga. Mereka tentu saja tak mengenal manajemen cinta, tetapi perencanaan hidup mereka ke depan patut jadi perhatian anak-anak zaman kini. Bukan harus berbekal kerbau, melainkan kerja keras dan kemandirian. Punya kerbau, ketika itu, bisa menghasilkan uang dengan membajak sawah.

Cerita mereka pun kemudian diangkat ke layar lebar, bertajuk “Max Havelaar”. Tetapi, keluarga besar keturunan Bupati Raden Adipati Karta Nata Nagara menolak film ini diputar di Kabupaten Lebak khususnya.

Leluhur mereka tak seburuk yang digambarkan dalam film, berdasarkan buku Max Havelaar yang ditulis Eduard Douwes Dekker (Multatuli). Dekker sendiri jadi asisten residen Kabupaten Lebak saat Raden Adipati jadi bupati Lebak.(Dean A-Gamereau.


Next Post

Akhirnya Anggota Bawaslu Tangsel Minta Maaf Ke LSM Perkota Nusantara

Rab Okt 28 , 2020
Tangsel – LSM Perkota Nusantara menyambangi kantor Bawaslu Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Jalan Alamanda, Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, pada Selasa […]