Tradisi Panjang Maulud, Warisan Budaya Kesultanan Banten

muludDalam arak-arakan panjang mulud, pada perayaan maulid nabi Muhammad Saw, di Kota Serang Rabu (22/2), banyak dekorasi unik yang ditampilkan masyarakat. Selain itu, tak ketinggalan partisipasi dari segenap birokrasi dari tingkat kelurahan hingga Kecamatan turut memeriahkan peringatan panjang maulud kali ini. Tradisi panjang mulud konon diwariskan sejak jaman Sultan Ageng Tirtayasa. Panjang Mulud adalah tempat untuk mengangkut makanan, yang dibagikan pada perayaan Maulid atau hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Seiring dengan berjalannya waktu, bentuk Panjang Mulud kini juga mengikuti perkembangan budaya populer. “Apapun hasil kreasi seni ini tak diharamkan, selama mengikuti koridor,” kata Ardi salah satu peserta perayaan panjang maulud, saat diminta tanggapannya terkait puncak tradisi keagamaan di Serang tersebut.

Berbeda dengan Ardi, Bari salah seorang warga Cipocok Jaya yang sengaja membawa keluarganya untuk menyaksikan perhelatan maulud tersebut mengatakan, ada tradisi unik yang terselip dalam setiap perayaan Mulud di Kota Serang.

“Biasanya kita bareng-bareng berebut barang-barang bawaan yang diarak,”katanya. “Ini sudah jadi tradisi, siapa saja boleh ikut mengambil kesempatan untuk mengambil barang yang diinginkan,” tambahnya.

Senada dengan Bari, Irwan warga Walantaka mengatakan dirinya hampir tiap tahun mengitu perayaan panjang maulud di Kota Serang. “Tadi waktu berebut, saya dapat sajadah dan sarung,” tutur Irwan seraya menyodorkan barang yang diperolehnya. @Opan

About the Author

has written 1896 stories on this site.

Copyright © 2014 KORAN TANGERANG. All rights reserved.
Powered by WordPress.org, Custom Theme and ComFi.com Calling Card Company.