Tuhan, Malaikat dan Doa


Korantangerang.com – Malaikat berkeliling dari satu jalan ke jalan yang lain. Mereka mencari ahlu ‘dz-dzikri (orang-orang yang sedang berzikir). Ketika ditemukan, para malaikat terbang ke langit dunia, lalu mengerumuni orang-orang yang sedang berzikir itu.

Tuhan ‘Azza wa Jalla bertanya kepada para malaikat (padahal hakikatnya, Tuhan lebih tahu).

“Apa yang hamba-Ku panjatkan?”. Jawab Malaikat, ”Mereka menyucikan-Mu (tasbih), mengagungkan-Mu (takbir), memujimu (tahmid) dan memuliakan-Mu (tamjid)”.

Tuhan bertanya, “Apakah mereka melihat Aku?” Jawab Malikat, “Tidak, demi Allah! Mereka tidak melihat-Mu”.

Tuhan bertanya, “Bagaimana kalau mereka melihat Aku?”. Jawab Malaikat, “Sekiranya mereka melihat-Mu, pasti ibadah mereka amat khusyuk, sangat memuliakan-Mu dan mereka jauh lebih banyak menyucikan-Mu”.

Tuhan bertanya, “Mereka minta apa?” Jawab Malaikat, “Mereka meminta sorga”. Tuhan bertanya, “Apakah mereka melihatnya?. Jawab Malaikat, “Tidak, demi Allah, hai tuhanku! Mereka tidak melihatnya (sorga itu)”.

Tuhan bertanya, “Bagaimana kalau mereka melihatnya (sorga itu)?”. Jawab Malaikat, “Mereka akan lebih sungguh-sungguh, sangat berharap, dan keinginan mereka (masuk sorga) jadi sangat besar”.

Tuhan bertanya, “Mereka ingin berlindung dari apa?” Jawab Malaikat, “Dari api neraka”. Tuhan bertanya, “Apakah mereka melihatnya (api neraka itu)?” Jawab Malaikat, “Tidak, demi Allah, hai Tuhanku! Mereka tidak melihatnya (api neraka itu)”.

Tuhan bertanya, ”Bagaimana kalau mereka melihatnya?”. Jawab Malaikat, “Mereka akan lebih bersungguh-sungguh menghindarinya dan sangat takut padanya (pada api neraka itu)”.

Selanjutnya Tuhan berfirman, “Saksikan (hai para Malaikat!), sungguh Aku telah mengampuni dosa mereka”.

Malaikat berkata, ”Di antara mereka (jamaah ahli zikir itu), ada orang yang sesungguhnya tidak termasuk ahli zikir, karena bergabung untuk sesuatu urusan (bukan ingin berzikir).

Allah Ta’ala bersabda, “Mereka adalah kelompok yang bergabung dalam zikir. Dia tidak merugikan mereka”.(Abu Hurayrah, dicatat Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim (A-Badr, 2010 M/1432 H : 8).

Pelajaran dari hadis ini, Tuhan senantiasa mengawasi hamba-Nya, dan selalu memberi peluang pengampunan, dalam banyak kesempatan.

Malaikat akan senantiasa patuh menjumpai hamba-Nya, menjadi utusan pada waktu-waktu tertentu untuk hal-hal tertentu, seperti dalam doa ahli zikir. Tasbih, takbir, tahmid, dan tamjid membuka peluang untuk pengampunan dosa.

Janji Allah S.W.T.,”Saksikan, Aku ampuni dosa mereka!” (untuk mereka yang senantiasa berzikir).

(C.R. Nurdin, ketua PW Persatuan Islam Provinsi Banten. Disampaikan pada acara Kajian Ahad (Jihad), di masjid Al-Manar, Kota Serang, Minggu 01 November 2020 M/15 Rabi’ul Awal 1442 H).


Next Post

Gembira, Ratusan Seniman Mbangun Kaso Dapat Bantuan Sembako Dari Perum Perhutani Wilayah Bogor

Ming Nov 1 , 2020
Tangerang – Ratusan seniman dari empat kelompok seni tradisonal terdampak COVID-19 yang tergabung dalam “Mbangun Karso” dapat paket sembako dari […]