Proyek Lotte Dituding Sebagai Penyeba Banjir di Rawa Arum


Cilegon – Warga Lingkungan Kruwuk, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon menuding jika proyek pembangunan pabrik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) sebagai penyebab banjir yang terjadi pada Senin (4/5/2020) lalu. Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat (hearing) antara warga dengan perusahaan dimediasi oleh Komisi II DPRD Kota Cilegon di Aula Rapat DPRD Kota Cilegon, Selasa (12/5/2020) pagi tadi.

Ketua RT 03/07 Lingkungan Kruwuk, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grogol, Nasehudin mengatakan, LCI harus bertanggung jawab atas kejadian banjir yang mengkaibatkan warga Kelurahan Rawa Arum terdampak. Ia menilai, penyebab banjir akibat pengerukan perusahaan. Dimana akibat itu resapan air menjadi erkurang. Selain itu di wilayah Rawa Arum juga tidak tersedia tandon untuk menampung air.

“Karena proyek yang dikerjakan oleh PT Lotte ini membuat saya bersama dengan warga lain terdampak. Kenapa terdampak? Sebelum adanya mereka, di sana ada resapan air. Tapi setelah ada Lotte, justru itu diurug. Disaat diurug belum ada gantinya otomatis air kan pada buyar ke permukiman,” kata Nasehudin dalam paparannya.

Atas kejadian ini, warga meminta agar pihak Lotte menyiapkan lahan untuk resapan air sehingga tidak merugikan warga sekitar.

“Dari pembangunan yang hampir 100 hektar ini, kami hanya minta 1 persen untuk dibuatkan tandon disitu untuk pengganti lahan serapan yang diurug,” jelasnya.

Meski dalam rapat itu belum adanya solusi, namun kata dia, warga mendukung langkah Pemerintah Kota Cilegon untuk menyelesaikan segera masalah tersebut.

“Belum, tadi saya lihat saya dengarkan belum ada kepastian (solusi). Nanti ada tim penanggulangan banjir untuk menangani itu,” pungkasnya.

Senada dengan Nasehudin, warga lainnya, Husen Saidan meminta agar Pemkot Cilegon dapat serius menangani persoalan banjir di Rawa Arum. Semestinya rapat yang telah digelar dua kali ini memberikan solusi. Namun belum ada bentuk nyata pemerintah membenahi persoalan banjir tersebut.

“Semestinya ada bentuk nyata dari pemerintah untuk persoalan banjir ini. Dan harusnya ada pelebaran sungai sekitar tiga kilometer di hilir Kali Kruwuk,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, beberapa lahan yang berada di hilir Kali Kruwuk adalah tanah PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PCM), PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) dan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC).

“Kali di situ minimal lebarnya 25 sampai 30 meter, karena sekarang sangat kecil kalinya,” ungkapnya.

Ketua Komisi II DPRD Kota Cilegon Faturohmi berharap tidak ada lagi banjir di sekitar Kecamatan Grogol. Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) diminta untuk membuat tandon di sekitar Grogol.

“Aliran kali juga harus dilebarkan, karena yang ada sekarang tidak memadai lebarnya. Fungsi tandon untuk penampungan sementara, dan aliran tetap dilakukan pelebaran,” jelasnya.

Faturohmi menjelaskan, tim penanganan banjir harus segera melakukan tindakan di lapangan. DPUTR untuk menentukan solusi diminta melibatkan industri, karena di sekitar Kali Kruwuk tersebut terdapat tiga industri.

“Teknis di lapangan kan DPUTR dan Bappeda mengkoordinir dan bisa dengan industri, seperti Lotte bantu alat berat, KIEC menyiapkan lahannya, kalau mengandalkan pemerintah saja kan lambat, Dewan kita mengawasi,” jelasnya.

Humas PT LCI Maryono menepis anggapan warga menyatakan, penyebab banjir di Rawa Arum disebabkan oleh proyek PT LCI. Ia mengungkapkan, pihaknya sebelum terjadi banjir selalu melakukan normalisasi sungai untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Siapa bilang enggak ada action atau tindakan. Kami (Lotte) sudah melakukan normalisasi. Beberapa sungai di normalisasi. Kami pun sudah melakukan pelebaran air tersebut hingga menembus laut. Untuk total yang kita lebarkan aja sudah 18 meter dari 12 meter,” ungkapnya.

Terkait permintaan warga untuk pelebaran sungai, Lotte tidak dapat menyanggupinya karena tidak memiliki lahan lagi. Pihaknya sedang berusaha bekerjasama dengan KIEC untuk memenuhi yang diminta warga.

“Mintanya warga tadi pak Husen itu kan 30 meter, kami tidak ada lagi lahan 30 meter makanya kita kerjasama sama KIEC. Kalau KIEC bisa menyanggupi ya bisa, tapi jawabannya KIEC hanya sisa 27 meter, dipersilahkan nanti diatur seperti apa,” ujarnya.(Rls/Madsari)


Next Post

Pandemi Covid 19, Tono Anggota DPRD Sragen Bagi-Bagi Sembako dan Masker

Rab Mei 13 , 2020
Sragen – anggota DPRD Kabupaten Sragen dari Fraksi Nasdem kembali menunjukkan kepedulian dan perhatiannya kepada masyarakat di tengah adanya pandemi […]