JINGLE DAN MASCOT PILKADA LEBAK 2024 “Sampaikan Pesan Secara Indah, Sehingga Mereka Akan Mengingatnya”


RANGKASBITUNG (korantangerang.com) – Bakat seni Anda, cobalah salurkan, atau Anda ekspesikan ke dalam rangkaian kata, jadi baris demi baris lirik. Selanjutnya, Anda beri bingkai musik dan nyanyian gembira, sehingga jadilah jingle untuk kemudian jadi kawih resmi pemilihan bupati dan wakil bupati Lebak tahun 2024. Satu lagi, bakat desain Anda, bangkitkan pula!

Anda bisa berimajinasi tentang Kabupaten Lebak, tentang budaya dan atau kearifan lokal. Selanjutnya, Anda tuangkan ke dalam sebuah mascot, juga untuk memeriahkan pemilihan bupati dan wakil bupati masa jabatan 2025 – 2030. Mascot itu, bukan sekadar sebuah design, melainkan juga science. Ada latar belakang dan filosofis di balik mascot itu. Kalau mascot di wilayah bisnis untuk menaikkan penjualan, maka mascot di wilayah pilkada untuk menaikkan angka partisipasi pemilih.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) kabupaten/kota/provinsi segera menyelenggarakan pemilihan secara serentak nasional (27 November 2024). Tahapan pemilihan sudah dimulai, secara serentak pula. Sayembara jingle dan mascot itu (25 April – 02 Mei 2024) bagian kecil dari pemilihan. Ada nyanyi dan seni. Ada partisipasi aktif Anda untuk menyukseskan pemilihan melalui aksi sosialisasi dalam bentuk jingle dan mascot dimaksud. Semua bermuara pada penggunaan hak pilih di tempat pemungutan suara (TPS) : langsung, bebas, dan rahasia (untuk pemilih) serta jujur dan adil (untuk penyelenggara). Inilah ruh dan desah nafas jingle dan mascot dalam rangkaian atau tahapan pemilihan bupati dan wakil bupati Lebak khususnya.

TPS akan sangat sentral. Dari sinilah surat suara sah atau tak sah dibunyikan. Para anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) jadi sangat sentral pula. Hanya anggota KPPS yang mengeksekusi sah atau tidak sah sebuah surat suara. Dari sini lahir perolehan suara melalui penghitungan yang cermat dan transparan. Baik Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) maupun KPU Kabupaten Lebak tak akan pernah melakukan penghitungan perolehan suara, karena seperti amanat peraturan KPU (PKPU) hanya melakukan rekapitulasi perolehan suara.

Bagaimana cara menggerakkan khalayak pemilih agar mau datang ke TPS dengan hati yang tenang dan gembira? Divisi Sosialisasi punya tugas. Bukan saja memperkenalkan adanya pemilihan bupati dan wakil bupati Lebak, melainkan juga membangkitkan semangat menggunakan hak pilih, ramai-ramai datang ke TPS. Sampai di sini tugas Divisi Sosialisasi. Selanjutnya, soal pilihan calon bupati dan wakil bupati, di balik bilik rahasia TPS itu, akan diserahkan kepada pemilih itu sendiri.

Jingle dan mascot ingin memainkan peran penting untuk langkah pasti ke TPS itu. “Mahkota” KPU Kabupaten Lebak khususnya, dalam pemilihan ini, kita pastikan adalah angka partisipasi pemilih, bukan siapa yang terpilih. Oleh karena itu, kalau anggota KPU melakukan monitoring nanti, pertanyaan pertama ke TPS adalah, “Berapa angka partisipasi pemilih?”, bukan pertanyaan, “Siapa yang terpilih?”. Pertanyaan terakhir ini biasanya oleh pengusung atau pendukung pasangan calon.

Pamungkas, untuk suksesnya sosialisasi pemilihan bupati dan wakil bupati Lebak, dan terutama berkaitan dengan pesan-pesan jingle dan mascot, saya ingin mengutip Joseph Pulitzer, (1847 – 1911), seorang jurnalis dan politisi kelahiran Hongaria. Kata Pulitzer, dalam buku Komunikasi Sebening Kristal, “Sampaikan pesan kepada mereka secara singkat, sehingga mereka akan membacanya. Secara jelas, sehingga mereka akan menghargainya. Secara indah, sehingga mereka akan mengingatnya. Dan terutama sekali secara akurat, sehingga mereka akan dipandu dengan cahayanya”. (Dean Al-Gamereau).


Next Post

Karutan Bangil Berikan Pengarahan Terkait Dasar dan Fungsi Rutan pada Orientasi CASN Tahun Angkatan 2023

Kam Apr 25 , 2024
SIDOARJO – Karutan Bangil, Bhanad Shofa Kurniawan, menjadi narasumber dalam acara Orientasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CASN) Tahun Angkatan 2023 […]