Dituduh Berbuat Amoral Oleh Pihak Guru SMKS YP. 17 Cilegon, Siswa Ini Terancam Putus Sekolah


Cilegon – Orangtua siswa SMKS YP 17 Cilegon yang dikeluarkan oleh pihak dewan guru, Ismail mengeluhkan apa yang dilakukan pihak sekolah tersebut yang dinilai terlalu berlebihan, sehingga tanpa memberikan peringatan langsung mengeluarkan anaknya, sejak Kamis (3/10/2019) kemarin.

“Masa pihak sekolah langsung mengeluarkan anak saya AP begitu saja tanpa memberikan surat peringatan terlebih dahulu. Cuma karena ada foto-foto yang emang tidak pantas di HP anak saya,” ungkapnya kepada awak media, Kamis (3/10/2019) malam.

Lebih lanjut, Ismail menceritakan kronologis anaknya sebelum dikeluarkan dari SMKS YP. 17 Cilegon, yang bermula dari pelanggaran berupa keterlambatan masuk sekolah, yang kemudian HP anaknya disita oleh salah satu guru.

“Anak saya telat, terus tasnya disita lalu ada HP didalam tasnya kemudian dipaksa untuk buka kode HPnya, dan dibuka semua koleksi fotonya. Dan ketahuan ada foto-foto anak saya sedang megang botol minuman keras, kan belum tentu minum? ada juga foto lagi sama cowok di hotel tapi itu bukan berduaan, tapi lagi iseng main sama teman-temannya,” beber Ismail.

Selain itu, Ismail juga menyesalkan dan mempertanyakan sikap sekolah yang menginterfensi persoalan anaknya di luar jam sekolah yang merupakan tanggung jawab orangtua untuk mendidik anaknya. Dan kegiatan di luar jam sekolah tersebut dijadikan keputusan untuk mengeluarkan AP atau tidak lagi memberi kesempatan bagi siswa kelas 3 tersebut untuk belajar hingga lulus.

“Foto-foto itukan hanya jadi koleksi pribadi anak saya pihak sekolah tidak bisa membuktikan foto itu tersebar luas di Medsos. Dan saat foto dilakukan di luar jam sekolah yang menjadi tanggung jawab saya. Kenapa pihak sekolah tidak manggil atau negur orangtuanya dulu untuk kerjasama mendidik AP. Ini malah langsung dikeluarkan saja,” jelasnya.

“Saat dikeluarkan, isteri saya yang datang jadi ada salah satu guru Pak Jay yang menyuruh orangtuanya berhenti sekolah dan diduga dikawinkan saja. Masa guru kok begitu. Bukannya pemerintah juga mengkampayekan agar tidak nikah dini, atau minimal 20 tahun,” tambahnya.

Dalam Surat Keputusan Bernomor 086 SMKS/YP.17/S.2/X/2019 itu secara tegas pihak SMKS YP 17 mengeluarkan AP sebagai siswa karena dituduh mencemarkan nama baik sekolah tersebut dengan melakukan minum-minuman keras dan Amoral. Padahal menurut orangtua AP, pihak sekolah hanya berdasarkan foto-foto saja.

“Dipaksa buka hp, setelah itu diperiksa lihat foto, terus anak saya ditanya seperti dijebak. Awalnya bilang gak diapa-apain biar ngaku, emang anak saya ngakui, itu pun minum juga gak banyak dan pas kebetulan diajak temennya saja,” ucapnya.

Untuk itu, Ismail (orangtua AP_red) beserta beberapa anggota keluarganya mendatangi dewan guru SMKS YP. 17 Cilegon untuk mediasi dan mempertanyakan kebijakan mengeluarkan anaknya dan memohon untuk diberi kesempatan bisa sekolah lagi.

“Kita minta penjelasan pihak sekolah dan mohon agar anak saya bisa sekolah lagi, kalau tuduhan anak saya berbuat Amoral, saya tantang pihak sekolah untuk tes keperawanan anak saya. Dan yang bikin sakit mereka tidak bersedia, walau sudah nuduh anak saya berbuat Amoral hanya berdasarkan foto yang dikoleksi di handpone nya AP, ini yang saya gak terima,” ujarnya.

Wartawan faktabanten.co.id dan Madsari Sekertaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Cilegon, yang secara kebetulan mengikuti pertemuan tersebut, tidak mendapati Kepala Sekolah SMKS YP. 17 Cilegon yang dikatakan oleh salah satu guru sedang ada di luar sekolah, pada jumat (4/10/2019).

Saat coba konfirmasi kepada Wakil Kesiswaan, Jailani pihaknya enggan menanggapi dengan alasan mengambil pernyataan yang disampaikannya saja saat musyawarah tadi yang dikutip.

“Jadi kami sudah menerapkan aturan di sekolah ini selama puluhan tahun. Dan keputusan dikeluarkannya AP berdasarkan musyawarah dewan guru bukan saya sendiri,” ujar guru yang akrab disapa Pak Jay ini dengan didampingi Ketua BK ikoh dan Pembina Osis serta Wali Kelas.

Saat disinggung soal alasan pihaknya menyuruh orangtua AP agar berhenti sekolah dan menyuruh mengawinkan anaknya saja. Jailani menampiknya.

“Gak saya gak bilang gitu,” kilahnya, meski hal tersebut disaksikan oleh AP dan orangtuanya.

Soal alasan pihak sekolah membuka privasi siswa di dalam HP, pihak sekolah beralasan itu aturan sekolah dan instruksi dari kepala sekolah.

“Kepala sekolah yang menginstruksikan begitu, dan aturan ini sudah sering disampaikan ke siswa agar tidak bawa HP saat di sekolah, dan aturan tata tertibnya sudah jelas di Pasal 15,” jelas Jaelani, sambil menunjukan buku (Tata Tertib (Tatib) sekolah tersebut.

Meski beberapa kali orangtua dan kakek nenek yang ikut hadir dalam musyawarah dengan pihak SMKS YP. 17 Cilegon berulang kali memohon sambil sesekali menangis dan berjanji akan lebih mengawasi anaknya di rumah, untuk memohon kebijakan toleransi memberikan kesempatan bagi AP bisa melanjutkan sekolah namun, Jailani tetap kekeh menolak.

“Itu berarti kami harus berjalan mundur, pertaruhannya luar biasa kalau saya menerima aturan itu, dan sangat merugikan kami. Apa salah, kami menjalankan aturan lembaga kami,” ucapnya.

Bahkan, ketika neneknya AP menangis karena apabila pindah sekolah harus mengeluarkan biaya lagi yang tidak sedikit untuk uang gedung dan sebagainya di sekolah baru. Dan pihak keluarga mengaku tidak akan mampu, mengingat Ismail sebagai tulang punggung keluarga hanya bekerja sebagai kuli bangunan saja. Dan dimana kebijaksanaan dan juga keadilanya bagi anak kami ?

Serta pernyataan Ismail dan nenek AP yang secara tegas menyatakan kalau AP benar dikeluarkan dari SMKS YP. 17 Cilegon tidak akan melanjutkan sekolah karena terkendala biaya tersebut, pihak dewan guru sama sekali tidak tergugah sama sekali hati nuraninya.(Rls)


Next Post

Danramil 05/Ciputat Terima Kunjungan Kapolsek Ciputat di HUT TNI ke-74

Sab Okt 5 , 2019
Tangerang – Keakraban, kebersamaan terlihat saat Danramil 05/Ciputat Kapten Inf Dahlan saat menerima kunjungan Kapolsek Ciputat Kompol Endy Mahandika di […]