Visi Banten Aman dari Sebuah Tenda Putih di Mayabon Village


Komitmen Banten Aman

Dinding tembok formalitas yang biasanya berdiri kokoh nan teguh itu runtuh seketika, Senin malam (04/05/26). Ketika itu, baru saja Kota Serang dikepung hujan lebat.

Tak ada lagi protokol kaku. Bintang dua atau bintang satu di pundak, lencana di baju atau pena di saku, untuk sementara, larut dalam suasana yang nyaris tanpa sekat dan tanpa batas itu.

Semua melepas atribut jabatan. Tak ada tongkat komando. Namun, di meja bundar, ada kopi hangat dan tawa renyah setelah siang tadi lelah bertugas di lingkungan masing-masing.

Para petinggi di Provinsi Banten duduk di satu meja bundar, melingkar, dalam sebuah tenda putih, di Mayabon Village, Cipocok Jaya, Kota Serang, Hujan masih turun menjelang acara dimulai.

Ada Gubernur Andra Soni, S.M., M.A.P., Kapolda Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H., Danrem Brigjen TNI Daru Cahyadi Soeprapto, S.Sos, M.M., Ketua DPRD H. Fahmi Hakim, S.E., dan Ketua PWI Rian Nopandra.

Sekali lagi, pertemuan di Mayabon Village, yang juga tempat tinggal Kapolda Banten itu, tanpa sekat. Lagi pula, semua seperti satu angkatan usia. Ketua PWI Banten, untuk yang belum tahu, boleh jadi akan dianggap sebagai calon gubernur masa depan.

Lalu, mereka berkumpul, dan dengan melepas atribut masing-masing itu, untuk sekedar menghirup kopi hangat, makan malam, atau mendengar pidato pengarahan, atau menikmati petikan gitar dan kawih penyanyi? Tidak! Semua sedang mengokohkan satu visi : Banten Aman, melalui acara yang dikemas Silaturahmi Kamtibmas Polda – PWI.

Visi ini tak harus selalu digaungkan secara resmi melalui konferensi pers atau penyebaran siaran pers, tetapi juga bisa melalui silaturahmi. Gubernur, Kapolda, Danrem, Ketua DPRD, dan Ketua PWI sudah paham bahwa semua punya cara kerja dan ciri kerja masing-masing untuk menjaga Banten Aman.

Para petinggi di Banten itu, boleh jadi, sering bertemu dalam acara-acara kedinasan, dan dengan pakaian resmi masing-masing. Namun, kali ini, baju lengan pendek, sepatu casual, kaos oblong yang dibalut rompi (bukan rompi anti peluru), seperti yang dipakai Kapolda, mengesahkan acara ini memang telah “meruntuhkan” sekat formalitas itu.

Bang Hengki dan Bang Andra

Dalam runtuhnya dinding formalitas itu, pesan-pesan tetap mengalir dari Gubernur dan Kapolda khususnya. Bang Hengki, demikian Gubernur Andra Soni biasa memanggil Kapolda Banten itu, dengan lugas menyatakan bahwa stabilitas keamanan adalah kerja kolektif.

“Pers bukan sekadar pengamat, tetapi pengawal yang berdiri bersisihan dengan aparat untuk menjaga ketenangan rakyat,” kata Bang Hengki. Sekitar 100 wartawan yang hadir ikut bertepuk tangan.

Mereka sadar, fakta tak sekadar dibuat atau dirangkai jadi berita, melainkan juga berisi pesan yang menenangkan. Bang Hengki ingin berita yang ditulis itu objektif, berimbang, dan menyejukkan.

Polda Banten, pada tahun 2025, telah menyelesaikan 25 kasus penambangan emas tanpa izin (PETI). Menurut Bang Hengki, semua sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi, lengkap dengan tersangka dan barang bukti. Sudah P-21 (kode hasil penyidikan polisi sudah lengkap).

”Tugas Polda sampai di situ,” kata Bang Hengki kemudian, saat dikonfirmasi wartawan.

Suasana jadi lebih senyap. Tak ada tawa atau senyum. Musik berhenti. Naluri jurnalisme wartawan tersentak. Banyak yang mencatat. Ini fakta news value (berita bernilai) dan to print the truth (fakta yang pantas dicetak atau disiarkan). Malah, bisa jadi headline di media massa dan di media siber Provinsi Banten.

Gubernur Andra Soni berbicara pembangunan pendidikan melalui sekolah gratis dan pembanguan desa melalui Bang Andra, akronim dari Bangun Jalan Desa Sejahtera.

Syukurlah, kedua janji kampanye ini sedang berjalan. Kalau tidak, sangat mungkin, ada warga Banten yang kemudian membentuk Komunitas Penagih Janji Kampanye.

Pada tahun 2025, melalui Bang Andra, berhasil dibangun infrastuktur desa sepanjang 67,87 kilometer. Anggarannya, Rp184 miliar. Bang Andra berlanjut pada tahun 2026 ini.

“Program ini fokus di desa-desa yang memiliki keterbatasan akses transportasi dan logistik,” kata Gubernur Andra Soni.

Kerja, Kerja, dan Kerja Wartawan
Malam saat dinding formalitas itu runtuh, yang kemudian berdiri tegak hanya komitmen yang tulus : bahwa Banten akan terus dijaga, dikawal, dibangun bersama.Tangan-tangan yang malam itu saling berjabat erat melahirkan komitmen Banten Aman.

Termasuk wartawan, akan terus bergerak dengan profesinya. Cara ikut menjaga, mengawal, dan membangun Banten Aman, tentu, tidak akan sama persis dengan cara Bang Andra atau Bang Hengki.

Wartawan tidak ditugasi membangun infrastruktur di desa, tetapi boleh menulis berita pembangunanya, sekaligus melontarkan kritik kalau memang perlu. Kinerja gubernur boleh pula dipuji.

Wartawan tidak ditugasi melakukan penyelidikan dan penyidikan sesuatu peristiwa tertentu, sebagaimana dilakukan polisi, tetapi boleh melakukan investigasi, yang kemudian melahirkan karya jurnalistik investigative news atau depth news. Kerja, kerja, dan kerja wartawan ada di dunia idealisme, dengan produknya informasi. Media adalah jendela informasi, sebagaimana buku adalah jendela peradaban.

Opan, Harwood, dan Miller

Ketua PWI Banten, Rian Nopandra, tahu persis di tempat mana seharusnya wartawan berdiri, di antara masyarakat dan Pemerintah. Mermang, ada korelasi pers, Pemerintah, dan masyarakat. Wartawan sudah tahu cara memahami dan menempatkan ketiga aspek itu, terutama kalau sudah membaca buku karya Floyd G. Arphan dan Robert Peerbom.

Akhirnya, kata Richard Harwood, “Jika kita tidak menjaga jarak dari arena, apakah kita ini : wartawan atau politikus?”. Satu lagi,

kata Frank Miller, Jr., “Begitu Anda mulai menulis untuk menyenangkan setiap orang, Anda tidak lagi berada di dalam dunia jurnalisme. Anda berada dalam dunia pertunjukkan”.

Dan,.. Opan, demikian Rian Nopandra biasa dipanggil, bisa ikut membangun Banten Aman, dengan cara dan ciri sentuhan jurnalisme, di tengah-tengah “rambu” tausiah Harwood dan Miller.

Membangun dengan cara “meruntuhkan” dinding tembok formalitas, agaknya, dalam satu situasi tertentu, bisa lebih mudah. Komitmen tulus Banten Aman telah dikokohkan di Mayabon Village, di balik tirai hujan, di tengah “reruntuhan” dinding tembok formalitas itu. (Dean Al-Gamereau)


Next Post

Kapolda Banten Jalin Silaturahmi Kamtibmas Bersama PWI Banten

Sel Mei 5 , 2026
KORANTANGERANG.COM-Dalam rangka memperkuat sinergitas antara kepolisian dan insan pers, Polda Banten menggelar kegiatan Silaturahmi Kamtibmas bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) […]