Venice akan meluncur resmi

Korantangerang.com – Akhirnya, BlackBerry hampir dapat dipastikan memakai sistem operasi Android. Kabarnya November nanti, BlackBerry Android yang saat ini diketahui bernama Venice akan meluncur resmi. Bagaimana peluang BlackBerry di tengah sesaknya pasar Android?

“Perangkat ini diharapkan meluncur di bulan November. Meskipun sebagian pecinta berat BlackBerry akan kecewa BlackBerry beralih dari sistem operasinya sendiri, dari bocoran spesifikasi dan desain yang ada saat ini, Venice akan menjadi salah satu perangkat terbaik dari BlackBerry,” demikian opini dari media teknologi The Next Web.

Bocoran mengenai Venice deras bertebaran, bahkan video nya sudah muncul. Terlihat dalam video itu ukuran Venice cukup besar dan memiliki keyboard gaya sliding. Layarnya tampak jelas memakai OS Android.

Desain Venice memang lumayan bagus dan meski ada keyboard fisik khas BlackBerry, tak terlalu menambah ketebalan handset. Selain itu, OS Android yang dipakai tampilannya tak banyak diutak atik. Speknya cukup tinggi karena menyasar pasar high end. Di antaranya prosesor Qualcomm Snapdragon 808, RAM 3 GB serta kamera 18 megapixel.

“Meski BlackBerry keteteran sekarang, tak diragukan kalau ada fans loyal yang suka dengan hardware mereka tapi tak demikian dengan software-nya. Pindah ke Android mungkin cukup untuk menjaga loyalitas mereka,” tulis SlashGear.

Tapi karena pasar ponsel Android sangat padat, BlackBerry dinilai perlu hati-hati soal harga. Karena serbuan ponsel Android murah dengan spek tinggi semakin banyak. Tapi BlackBerry punya potensi karena namanya sudah dikenal dan unggul soal sekuriti.

“Ponsel murah sekarang punya layar 5 inch, HD, 4G, prosesor quad core dan sebagainya sehingga gap antara ponsel seperti OnePlus 2 dan Galaxy S6 sebenarnya cukup kecil,” ujar Daniel Gleeson, analis di IHS Global.

“BlackBerry merek terpercaya, tapi itu saja tak cukup untuk membuat mereka meraih pasar meski pindah ke Android. Kesempatan terbaik adalah memberi solusi soal isu Android seperti sekuriti yang jadi masalah besar di pasar enterprise,” pungkas Daniel.

(ASM)