Ternyata Ini Rahasia Mencegah Depresi di Era Modern

Ternyata Ini Rahasia Mencegah Depresi di Era Modern
drinks, communication, friendship and people concept - happy young women with cups sitting at table and talking in mall or cafe

KORANTANGERANG.com – Depresi bisa melanda siapa saja, termasuk anak muda. Arus gaya hidup dan berbagai macam informasi yang diperoleh, ternyata dapat menjererumuskannya dalam lubang depresi.

Jika sudah terjadi demikian, seharusnya ia memproteksi diri dengan menyaring informasi dan segala hal yang didapatnya. Menurut dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, dari Bidang Publikasi, Kemitraan, dan Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI).

“Orang sekarang lebih banyak dikte eksternal. Dikte eksternal maksudnya, kita tidak melindungi diri, kita tidak memagari diri dengan cara memfilter arus informasi yang masuk,” ujar psikiater yang biasa disapa dr Noriyu di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin 10 Oktober 2016.

Salah satu hal yang membuat seseorang sulit mem-filter arus informasi adalah sosial media. Apalagi di era digital ini, orang sudah dapat mengakses dengan mudah di mana dan kapan saja.

“Akhirnya, dengan derasnya gadget dan arus media sosial dan sebagainya, kayaknya otak manusia harus punya batas untuk menerima informasi dalam satu hari. Waktu pagi kita buka mata kita, berapa banyak informasi yang rumit dan kian derasnya. Gimana kita mau happy?” jelas Noriyu.

Menurutnya, siksaan karena derasnya arus informasi dapat memengaruhi psikologis seseorang kuat, mengapa? Karena arus informasi yang berlebihan membuatnya pemikiran seseorang terdistorsi.

“Kita membanjiri diri dengan derasnya arus informasi. Dosisnya cukup saja. Misalnya, cukup deh lihat Twitter sebentar saja. Cukup deh lihat Path. Kalau menurut saya, penyakit manusia modern untuk saat ini adalah itu,” ungkapnya.

Jika sudah demikian, seseorang yang terlalu menampung banyak informasi, perlu melakukan kontrol diri. ia perlu menyaring informasi yang perlu disimpan dan mana yang tidak, sehingga beban pikirannya tak membuat ia stres.

“Kitanya jadi terbanjiri informasi itu, kita tidak melindungi diri dengan memfilter dan memprotek lagi kesehatan jiwa kita. Ada batasnya manusia mem-filter informasi itu. Beda-beda kemampuan setiap orang menerima informasi,” tukasnya. @DF

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.