Pro Kontra Jembatan Kedaung – Eretan

Pro Kontra Jembatan Kedaung – Eretan

2Q==_1504755821169Korantangerang.com,Tangerang – Pembangunan Jembatan Kedaung sempat tertatih – tatih. Proyek yang sempat terseok – seok selama bertahun tahun itu kini sudah tampak wujudnya.Jembatan yang menghubungkan wilayah Kedaung Barat, dengan Kedaung Baru Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Dengan adanya pembangunan itu warga dari Sepatan dan Neglasari atau sebaliknya akan sangat dimudahkan melintas antar wilayah.
Jembatan ini juga menjadi akses pintas ke Bandara Soekarno Hatta dari kawasan pesisir utara Kabupaten Tangerang.

Jembatan Kedaung berdiri tegak membentang menyebrangi Sungai Cisadane tersebut kini keberadaannya menuai pro dan kontra.
Bagi sebagian masyarakat senang dengan adanya pembangunan itu.Karena dapat mempersingkat waktu tempuh.

Namun di sisi lain sebagian warga dirundung nelangsa. Lantaran mata pencaharian mereka tergerus akibat adanya Jembatan tersebut.
Sebelum Jembatan ini ada, masyarakat pada umumnya menaiki alat transportasi perahu eretan sebagai penghubung.Para pekerja perahu eretan pun kini gundah terkait keberadaan Jembatan Kedaung.

“Ya pasti kami penghasilannya jadi mati lantaran adanya Jembatan itu,” ujar Apip (31) satu dari pekerja perahu eretan kepada Korantangerang.com di Neglasari, Kota Tangerang, Rabu (6/9/2017).

Hal senada disampaikan Jamen (45) rekan se profesi Apip. Menurutnya keberadaan Jembatan Kedaung ini sangat berdampak buruk pada kelangsungan hidup keluarganya.

“Mayoritas warga di dekat Jembatan ini usahanya perahu eretan. Sudah ada selama puluhan tahun kami mencari nafkah dengan usaha itu. Kalau ada Jembatan seperti ini, gimana penghasilan kami sehari – hari menghidupi keluarga,” ucapnya.

Ia meminta agar pemerintah mencari jalan ke luarnya.
Terlebih pembangunan ini untuk kemaslahatan masyarakat.

“Harus dicari solusinya. Ada Jembatan atau pembangunan tapi harus dipikirin juga biar enggak ada orang yang sengsara ke depannya,” kata Apip.
Berbeda pandangan dengan masyarakat umumnya yakni Rega (36). Pria asal Sepatan, Kabupaten Tangerang itu senang jika Jembatan Kedaung tersebut beroperasi.

“Saya kalau dari rumah biasanya harus putar jalan dulu kalau mau ke Bandara Soetta. Dengan adanya Jembatan ini jadi dekat, hanya perlu 15 atau 20 menit saja sampai ke Bandara,” ungkap Rega yang mengendarai sepeda motor.

Hal serupa dialami Yanti (29) warga asal Neglasari, Kota Tangerang. Ia menyebut dengan adanya Jembatan Kedaung sangat membantu akses untuk ke tempat kerjanya.

“Saya kerja di Mauk Kabupaten Tangerang. Kalau lewat Jembatan ya jadi dekat, enggak harus ribet dan macet – macetan lagi,” imbuhnya.

Pantauan Wartawan di lokasi, Jembatan Kedaung saat ini sudah mulai beroperasi. Walau pun sempat mendapat penolakan keras dari warga yang mayoritas pekerja perahu eretan. Namun Jembatan tersebut belum beroperasi secara total. Hanya diperuntukan bagi pengendara sepeda motor dan pejalan kaki saja.

Spanduk imbauan pun terpampang di atas Jembatan Kedaung. Bagi pengemudi mobil tak boleh melintas.
Titik simpul pengujung Jembatan ke arah Neglasari juga jalannya tampak sempit. Jalan tiga bercabang yang sempit ini dikhawatirkan bisa menimbulkan kemacetan parah jika pengendara mobil diizinkan melintasi Jembatan Kedaung.

“Kami sedang sosialisasi kepada warga mengenai pengoperasian Jembatan ini. Sebenarnya Jembatan Kedaung pembangunannya kewenangan Pemprov Banten, di sini kami hanya sebatas koordinasi,” papar Kasubag Perencanaan Dinas PU Kota Tangerang, Hafid saat dihubungi korantangeran.com (A.Fat-zher).images(1)_1504755803393

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.