Perkampungan Budaya Betawi SETU BABAKAN

Perkampungan Budaya Betawi SETU BABAKAN

Jakarta – Batavia yang kini berganti nama menjadi Jakarta punya reputasinya sebagai kota megapolitan yang penuh sesak oleh gedung-gedung megah, kemacetan yang memusingkan, banjir yang kerap melanda di musim penghujan, atau sebagai surganya pusat perbelanjaan dan tak ketinggalan mungkin polusinya yang memprihatinkan. Nah bila ada rasa rindu dengan suasana Jakarta ‘tempoe doeloe’ dengan masyarakat Betawinya sebagai penduduk asli Jakarta dan ragam budayanya, datang saja ke Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Berlokasi di Serengseng Sawah kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, perkampungan ini memang di plot sebagai cagar budaya Betawi yang dilengkapi dengan segala hal yang beraroma Betawi. Mulai dari seni musik Qasidah, Marawis, Keroncong, Gambang Keromong, Lenong, Blantek, dan Gambus serta macam-macam tarian asli Betawi seperti tari Topeng dan Ondel-Ondel. Pokoknya yang berkaitan denan kesenian Betawi ada di perkampungan ini.

Menurut Ketua Umum BAMUS Betawi H. Zaenuddin MH, SE, Setu Babakan adalah sebuah kawasan perkampungan yang ditetapkan Pemprov DKI Jakarta sebagai tempat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi secara berkesinambungan. Perkampungan yang terletak di selatan Kota Jakarta ini merupakan salah satu objek wisata yang menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana khas pedesaan atau menyaksikan budaya Betawi asli secara langsung.” Di perkampungan ini masyarakat Setu Babakan masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas Betawi, memancing, bercocok tanam, berdagang, membuat kerajinan tangan, dan membuat makanan khas Betawi. Melalui cara hidup inilah, mereka aktif menjaga lingkungan dan meningkatkan taraf hidupnya,” terangnya.

Lebih lanjut Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Golkar yang karib disapa Bang Haji Oding itu menambahkan, penetapan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun 1996. Sebelum itu, Pemprov DKI Jakarta juga pernah berencana menetapkan kawasan Condet, Jakarta Timur, sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi, namun urung (batal) dilakukan karena seiring perjalanan waktu perkampungan tersebut semakin luntur dari nuansa budaya Betawi-nya.

“Dari pengalaman tersebut Pemprov DKI Jakarta kemudian merencanakan kawasan baru sebagai pengganti kawasan yang sudah direncanakan tersebut. Melalui SK Gubernur No. 9 tahun 2000 dipilihlah perkampungan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi. Sejak tahun penetapan ini, pemerintah dan masyarakat mulai berusaha merintis dan mengembangkan perkampungan tersebut sebagai kawasan cagar budaya yang layak didatangi oleh para wisatawan. Setelah persiapan dirasa cukup, pada tahun 2004, Setu Babakan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi. Sebelum itu, perkampungan Setu Babakan juga merupakan salah satu objek yang dipilih Pacifik Asia Travel Association (PATA) sebagai tempat kunjungan wisata bagi peserta konferensi PATA di Jakarta pada bulan Oktober 2002,” terang Bang Haji Oding panjang lebar.

Bila kita mengunjungi Perkampungan Betawi Setu Babakan kita memang akan disuguhkan panaorama alam yang mencerminkan kondisi kota Jakarta ‘tempoe doeloe’ yang asri oleh beragam tumbuhan-tumbuhan dan setu di mana-mana sebagai tempat penampungan air yang alam sediakan. Didaerah yang diapit oleh dua buah danau buatan ini, Situ Babakan dan Situ Mangga Balong, memang masih terdapat banyak perkampungan asli Betawi. Tak hanya itu masyarakat disana pun memilih untuk tetap dengan gaya hidup mereka yang tradisional dan sangat sederhana. Sebenarnya konsep ini sangat positif. Betapa tidak, mereka tak hanya sekedar menjaga kelangsungan budaya dan tradisi Betawi namun juga turut melestarikan lingkungan hidup dengan tetap menjaga kehijauan lingkungan mereka.

Walau lokasi Perkampungan Betawi Setu Babakan tak jauh dari pusat kota Jakarta, namun ketika kita menginjakan kaki dikita serasa berada di Jakarta masa lalu,di mana tak ada gedung bertingkat atau hutan beton, polusi dan kemacetan. Pokoknya terasa begitu asri dan asli.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.