Penyandang Psikotik Tampilkan Tarian Badindin

Siapa sangka jika penyandang psikotik atau gangguan jiwa bisa menampilkan Tarian Daerah Badindin asal Sumatera Barat. Mereka menari dihadapan ratusan orang yang hadir dalam acara Gado-Gado Sastra yang diadakan Universitas Indra Prasta PGRI di Gedung Olahraga Bulungan Jakarta Selatan.

“Ini juga sebagai sosialisasi kepada masyarakat. Karena pemahaman masyarakat mengenai gangguan jiwa sangat minim,” tandas Tuti Sulistyaningsih, Kepala Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Dinas Sosial DKI Jakarta, Kamis (22/12).

Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai gangguan jiwa menyebabkan penderita kerap kali mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan dari masyarakat bahkan dari keluarga penderita sendiri.

“Ini juga agar masyarakat tahu bahwa mereka sebenarnya bisa diberdayakan. Mereka memiliki hak yang sama sebagai manusia,” ujar Tuti.

Di samping itu, perlakuan yang didapatkan oleh penderita gangguan jiwa seperti diskriminasi, terisolasi, terkucilkan bahkan hingga pemasungan.

Padahal penderita gangguan jiwa berhak mendapatkan hak-hak mereka sebagai sebagai seorang manusia yang dapat mengembangkan diri dan mengasah potensi-potensi yang dimilikinya.

“Untuk itu, di panti mereka dilatih keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Bahkan kami beri pelatihan keterampilan yang bisa menunjang kehidupan mereka atau menjadi mata pencaharian mereka ketika sudah pulih,” kata Tuti.

Selama di panti, penyandang psikotik juga mendapatkan pelayanan sosial dan pemberian obat.

“Penanganan sejak dini dan dengan tepat juga perlu dilakukan terhadap penyandang psikotik atau gangguan jiwa. Maka dari itu, peran dari masyarakat sangat dibutuhkan guna untuk membantu kepulihan mereka,” terang Tuti.

Selain itu, tujuan mereka tampil menari adalah untuk membangun kepercayaan diri di tengah-tengah masyarakat. Kadang mereka merasa rendah diri dan minder ketika berada di tengah masyarakat.

“Ada anggapan kalau mengajarkan mereka menari itu sulit. Awalanya memang mereka tidak bisa menari. Tapi dalam satu bulan alhamdulillah mereka sudah bisa menari. Kuncinya adalah dalam proses mengajar mereka sabar, dan memahami setiap karakter dari mereka,” ujar Tuti. @AANG