Pentingnya Fasilitas Sekolah untuk Penguatan Pendidikan Karakter

Pentingnya Fasilitas Sekolah untuk Penguatan Pendidikan Karakter

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengunjungi SDN Klitik di Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Sekolah ini merupakan yang tertua di desa tak jauh dari rumah kelahiran Muhadjir. Pada tahun 1960-an, ayah Muhadjir, Soeroja, pernah menjadi kepala sekolah di SD ini.

Ratusan siswa dan puluhan guru menyambut kedatanganya. Sebagian guru yang sudah akrab mengenal Muhadjir sejak sebelum menjadi menteri tak segan meminta foto bersama dan bercengkerama. Muhadjir dikenal suka bersilaturahim dengan tetangga-tetangganya sejak ia masih menjadi rektor Universitas Muhammadiyah Malang. Sedangkan almarhum ayahnya merupakan tokoh masyarakat yang dikenal sebagai pendidik dan seniman dalang.

Melihat sekolah yang sudah menyatakan siap melaksanakan program penguatan pendidikan karakter ini, Muhadjir langsung bertanya mengenai jam belajar siswa dan jam kerja guru. Aktivitas ekstra kurikuler juga tak lepas jadi pertanyaannya.

“Anak-anak jangan hanya diajar di dalam kelas. Oleh karena itu halaman dan fasilitas sekolah harus nyaman,” katanya.

Kepala SDN Klitik Muhammad Baidhowi mengaku kesulitan jika full day school diterapkan. Sebab di sekolahnya belum tersedia fasilitas ibadah, misalnya musala.

“Sudah lama kami ingin membangun musala di sini,” kata Baidhowi seraya menunjuk halaman depan sekolah.

Muhadjir lalu menanyakan apakah ada lahan lain selain di halaman depan. Sebab jika di depan dikuatirkan akan menutup wajah sekolah dan mengurangi lapangan upacara. Ia mengusulkan musala dibangun di belakang sekolah yang masih luas.

“Memang jika mau kita terapkan penguatan karakter kita harus benahi fasilitas sekolah. Tadi saya juga mengecek koperasi dan kantin sekolah,” katanya. Siswa harus kerasan melakukan aktivitas di sekolah dan sekitarnya.

Ditambahkannya, guru harus lebih kreatif, jangan mengajar hanya dengan metode ceramah. “Ajak siswa bermain, bersimulasi, berfikir kreatif dan kritis. Ajak membaca. Metode ceramah hanya boleh untuk khutbah Jumat saja,” tuturnya.

Sekolah, kata dia, harus dicarikan potensi yang dapat digali menjadi kekhasannya. “Pendidikan karakter itu digali dari kearifan lokalnya. Yang penting nilai-nilai relijius, gotong royong, nasionalisme dan kemandirian ditanamkan dan diimplementasikan,” tegasnya.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.