Lifter Angkat Besi: Mengejar Prestasi dari Kamar yang Tak Bikin Nyaman

Lifter Angkat Besi: Mengejar Prestasi dari Kamar yang Tak Bikin Nyaman

KORANTANGERANG.com – Memasuki tahun 2017, tim angkat besi masih dilingkupi persoalan seperti kondisi ruangan latihan yang kurang oke, juga kamar yang tak bikin nyaman.

Saat ini Eko Yuli Irawan dkk. menjalani latihan di Gedung Pemudi Pusat Pengembangan Pemuda Olahraga Nasional Cibubur, setelah tempat latihan yang biasanya di pintu kuning Gelora Bung Karno direnovasi untuk Asian Games 2018.

Kepindahan ini sejalan dengan keinginan pemerintah untuk membuat kawasan Institut Olahraga Indonesia (Olympic Center) di Cibubur, yang diharapkan dapat mengoptimalkan setiap program pelatihan kepada atlet-atlet Indonesia, terutama pada cabang-cabang prioritas yang berpotensi mendatangkan prestasi, lebih-lebih di ajang Olimpiade. Dibandingkan dengan cabang olahraga lain, angkat besi menjadi yang lebih dulu menempati kawasan tersebut.

Akan tetapi, latihan mereka belum bisa maksimal. Bagaimana tidak, lantai tempat latihan sementara rata-rata sudah jebol karena tidak kuat menerima dentuman keras dari barbel-barbel angkatan para lifter. Hal ini sudah pernah dikeluhkan, namun belum ada perbaikan.

Tak cuma urusan tempat latihan, kondisi kamar yang ditempati pun belum dapat dikatakan nyaman. Selain ukuran yang tak besar, lantai terlihat kurang bersih dengan pelapis dinding (wallpaper) juga sudah terkoyak di beberapa tempat.

“Dari sejak kami datang ke sini memang keadaannya sudah seperti itu,” kata Eko Yuli merujuk pada lantai kamar mandi yang memperlihatkan bercak-bercak, sebelum melanjutkan, “kalau wallpaper seperti belum pernah diganti sejak dipasang, jadi beberapa ada yang sudah terkelupas dan berjamur.”

Hal tersebut diungkap langsung Eko Yuli kepada detikSport, yang berkesempatan melihatnya berlatih sekaligus melongok suasana di kamarnya yang tidak seberapa besar. Ruangan kamarnya sendiri berisikan satu kamar mandi dan dua tempat tidur berukuran single bed. Khusus di kamar peraih medali perak Olimpiade 2016 Rio itu, tempat tidurnya sengaja disatukan agar terlihat lebih besar dan ruangan lebih luas.

Untuk fasilitasnya, di kamar yang berada di wisma Soegondo Djojopoespito itu terdapat lemari untuk menyimpan pakaian berikut dengan meja televisi. Jaraknya cukup dekat dengan tempat tidur. Di meja itu terdapat televisi berukuran besar, yang Eko beli sendiri dengan koceknya.

“Kalau masalah makanan sudah bagus, paling kalau ada permintaan bisa fleksibel. Kamar yang masalah; kasur sudah melengkung, laundry gorden saja kami yang bayar. Ibaratnya ini kan fasilitas di sini. Layaknya hotel semua kan harusnya beban mereka, tapi ini kita yang bayar. Kami diundang ke sini, tetapi yang di sini seperti belum siap,” ucapnya.

“Kalau untuk orang awam mungkin bisa, tapi bagi yang katanya prioritas beda dong. Ini jauh dari harapan. Sekarang begini kalau kita mengutamakan buat kondisi kita dulu harus benar. Makan, tidur, istirahatnya bagaimana. Kita kan mencari kenyamanan juga seperti tempat tidurnya, ruangannya harus bersih, dan lainnya. Saya sudah 10 tahun pelatnas, 3 kali Olimpiade. Dari dulu juga selalu bilang prioritas tapi masih seperti ini tidak ada perubahan,” imbuh Eko Yuli.

Eko pun jadi ragu sendiri dengan hasil yang akan dicapai para atlet jika tidak ada perubahan yang signifikan dari pemerintah. Apalagi dalam waktu dekat Indonesia akan dihadapkan dengan dua multievent besar, SEA Games 2017 dan Asian Games 2018.

“Untuk SEA Games buat saya sih masih bisa tetapi tidak tahu untuk ke depannya dan teman-teman yang belum aman emas ini, bagaimana mereka untuk mengejar angkatan,” katanya.

“Manajer (Alamsyah Wijaya) kan komitmennya bagaimana atlet ini bisa nyaman, istirahat, makan segala macam karena itu kunci utamanya. Kalau kita istirahat bagus, makan bagus, recovery bagus, otomatis menjalani latihan kan nyaman dan menghindari cedera juga bisa. kalau semuanya mumpuni,” sebut Eko Yuli.

Hal senada diungkapkan lifter Deni. Saking tidak nyamannya berada di kamar, ia bahkan rela pulang ke rumah untuk bisa tidur nyenyak.

“Selama mulai menginap di sini saya tidak nyaman tidur, tidak pernah nyenyak. Bagaimana ya, udaranya itu tidak segar. Ini saja dalam satu pekan saya bisa pulang sampai tiga- empat kali karena tidak nyaman,” kata Deni, yang menghabiskan waktu 1,5 jam untuk pulang dari Cibubur ke rumahnya di Parung Panjang, perbatasan Tangerang.

“Ya kalau mau disebut Olympic Center ya belum bisa dikatakan wow. Ya kami cuma berharap ada perbaikan yang lebih baik lah dari sekarang, karena saya pernah merasakan kita fasilitas istirahat yang lebih baik dari sini. Saat di Pejompongan sebelum ke Olimpiade Brasil kemarin,” ungkap Deni. @df

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.