Keluarga Zaman “Now” Dikepung Medsos, Ini Tips dari BKKBN

Korantangerang.com – Gelombang besar yang tengah melanda kehidupan manusia abad ini karena pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sejak ditemukannya internet tidak selalu berdampak positif bagi keluarga. Munculnya fenomena penyakit sosial berupa perilaku amoral dan aksi intoleran menjadi keprihatinan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

 

Iswandi, Kepala Bidang Latbang pada Perwakilan BKKBN Provinsi Banten mengajak setiap keluarga untuk membentengi anggota keluarga dari berbagai pengaruh negatif perkembangan zaman, ia menegaskan pendidikan keluarga sebagai salah satu benteng utama untuk menjaga ketahanan keluarga.

 

“Keluarga memiliki posisi penting untuk menjaga nilai-nilai dan meneguhkan identitas bangsa dari berbagai rongrongan yang bisa menghancurkan kehidupan kita,” tegasnya kepada awak media usai menjadi narasumber sosialisasi Integrasi Kampung Keluarga Berencana (KB) yang dihelat BKKBN di Kampung Tegal Murni, Desa Benda, Kecamatan Sukamulya, Sabtu (30/12).

 

Menurutnya, keluarga abad ini memiliki tantangan jauh lebih besar dalam mendidik anak dan menjaga anggota keluarga dari berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak mental dan kepribadian anak, sebab internet memberikan ruang bebas untuk mengakses beragam informasi, sialnya tak sedikit konten kekerasan, pornografi bahkan ajaran ideologi yang tidak sesuai dengan karakter bangsa tersedia diruang maya itu.

 

“Sebagai lembaga pendidikan alamiah, setiap keluarga harus mampu memberikan pendidikan yang mumpuni kepada anggota keluarganya, terutama anak,” tambahnya.

 

Hal utama yang harus ditanamkan kepada anggota keluarga, kata Iswandi, adalah memastikan anak-anaknya mengenal dan memahami dasar-dasar agama. Orangtua dituntut menjadi guru bagi anak soal pengetahuan dan pengamalan agama. Setiap orangtua jangan malas mendalam berbagai sumber pengetahuan, terutama tentang agama.

 

“Salah satu fungsi keluarga adalah fungsi keagamaan, orang tua harus mampu menanamkan pengetahuan tentang agama kepada anak,” tambahnya.

 

Komunikasi hangat dalam keluarga pun harus terus ditingkatkan, karena sejak merebaknya penggunaan media sosial, terjadi perubahan perilaku komunikasi dalam keluarga, tak sedikit perbincangan dalam keluarga pun lebih banyak di medsos, padahal komunikasi langsung jauh lebih baik karena terjadi sentuhan secara emosional.

 

Agar tidak terjadi pembentukan karakter individualistik akibat gadget dan internet, Iswandi pun menyarankan orang tua mendorong anak-anaknya untuk aktif bersosialisasi, diantaranya dengan aktif berorganisasi.

 

“Dengan ikut aktif berorganisasi, anak turut dibentuk kepribadian, wawasan dan mental menjadi seorang pemimpin, karena dilatih untuk memiliki tanggung jawab sosial,” jelasnya.

 

Masih menyoal gadget dan smartphone, ia menyarankan orang tua secara rutin mengecek telepon seluler, akun media sosial, serta media lainnya milik anak, hal ini untuk memastikan bahwa anak tidak terjebak pergaulan yang salah atau terpapar informasi bahkan paham ideologi yang tidak selaras dengan nilai-nilai agama, ideologi negara, adat istiadat serta budaya bangsa.

 

“Dengan demikian, kita berharap sederas apapun pengaruh serta tantangan yang dihadapi keluarga jaman ini tidak membuat ketahanan keluarga menjadi lemah,” tukasnya.(Mulyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *