Indeks Kesehatan Di Provinsi Banten Masih Memperihatinkan

Indeks Kesehatan Di Provinsi Banten Masih Memperihatinkan

korantangerang.com – Provinsi Banten mempunyai Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Tahun 2016 sebesar Rp 9,30 triliun, anggaran tersebut di nilai masih belum cukup mengoptimalkan pembangunan kesehatan di wilayah Provinsi Banten.

Hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya masalah yang menyelimuti pogram pembangunan kesehatan di Provinsi Banten.
Menurut ketua Relawan Kesehatan Indonesia Provinsi Banten, Rijaludin As Shidiq hari ini (23/11) di RS Tangerang Selatan. Di Provinsi Banten masih banyak ditemukan pasien penderita gizi buruk, demam berdarah, dan TBC.

“Tahun 2016 saja di Banten berdasarkan catataan kami ada sekitar 1.078 balita di Banten yang menyandang status gizi buruk. angka harapan hidup (AHH) di Banten masih berada di bawah rata-rata nasional yakni 69,43%, AHH nasional sekitar  70,78%,” papar Rijal.

“Untuk kasus DBD tahun 2016 di Banten sebanyak 1.003 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 orang meninggal dunia. Jumlah korban meninggal akibat penyakit DBD di Banten antara lain di Kabupaten Tangerang 15 orang, Kabupaten Pandeglang lima orang, Kabupaten Serang tiga orang, Kota Serang dua orang, Cilegon dua orang, dan Tangerang Selatan dua orang meninggal dunia.”  ujar Rijal.

Menurutnya tingginya kasus gizi buruk disebabkan masih tingginya angka kemiskinan di Banten yaitu 5,42  persen pada Maret tahun 2016. Sementara untuk kasus DBD meski turun dari tahun 2015 namun masih dalam angka yang cukup tinggi hal ini disebabkan tidak berjalan secara efektif pemberantasan sarang nyamuk di desa desa, serta pelaksanaan fogging yang sering tidak sesuai dengan dengan siklus nyamuk penyebab DBD.

“Fogging masih sering dilakukan di atas jam 8, padahal pada jam tersebut nyamuk DBD sudah tidak ada lagi disarangnya sehingga yang terbunuh hanya nyamuk biasa serta serangga lainnya. Ditambah masih belum masifnya gerakan pemberantasan sarang nyamuk di Banten” ujar Rijal.

Dalam hal pelayanan kesehatan baik di Puskesmas maupun di RSUD, masih banyak warga Banten yang mengeluhkan kualitas pelayanan kesehatan di Provinsi Banten.

Rijal mencatat ada sebanyak 2317 pengaduan warga Banten yang lapor kepada Rekan Indonesia. 70% pengaduan lebih pada sulitnya warga Banten mengakses fasilitas kesehatan seperti kamar rawat inap, ruang perawatan khusus, dan minimnya fasilitas kesehatan untuk penyakit berat. Selebihnya mengadu pada persoalan sikap tenaga kesehatan yang belum ramah terhadap pasien.

“Untuk layanan dasar, yakni pelayanan kesehatan masyarakat di Banten masih minim, dan kami memberikan raport merah, terutama untuk fasilitas melahirkan yang aksesnya masih sulit dijangkau warga” katanya.

Diakhir siaran persnya Rijal juga menyoroti soal masih tingginya angka kematian ibu dan anak serta masih minimnya tenaga kesehatan di Provinsi Banten. Sulitnya akses fasilitas untuk melahirkan menjadi salah satu faktor masih tingginya angka kematian ibu dan anak. Tercatat di tahun 2015 ada sekitar 330 kasus kematian ibu dan 1,066 bayi yang meninggal pada saat melahirkan.

Sementara rasio dokter umum di puskesmas per 100.000 penduduk di Banten, paling rendah di tingkat nasional, yakni hanya 2,93%, di bawah rata-rata nasional 6,52%, sementara untuk rasio dokter gigi per 100.000 penduduk Banten hanya 1,53%, di bawah rata-rata nasional 2,56%.

“Idealnya tenaga dokter itu satu Puskesmas ditugaskan dengan dua dokter sehingga kekurangan tenaga dokter berstatus ASN sekitar 89 orang,” katanya.

@RIZKI

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.