Full Day School Upaya Jauhkan Pergaulan Bebas

Full Day School Upaya Jauhkan Pergaulan Bebas
Sejumlah siswa menyalami guru mereka seusai mengikuti upacara di Sekolah Dasar Negeri 060813 Medan, Sumatera Utara, Jumat (25/11). Menyalami guru oleh para siswa tersebut dalam rangka memperingati Hari Guru yang serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia. ANTARA FOTO/Septianda Perdana/pd/16

KORANTANGERANG.com – Penerapan full day school atau sekolah sehari penuh yang mulai diterapkan sejumlah sekolah di Samarinda, Kalimantan Timur, merupakan salah satu upaya menjauhkan para siswa dari pergaulan bebas dan tindakan negatif lainnya.

“‘Full day school dengan pelajaran di sekolah selama delapan jam, sebenarnya sudah lama diterapkan di Samarinda terutama pada sekolah-sekolah swasta,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda Asli Nuryadin di Samarinda, Selasa (14/12).

Sejumlah sekolah swasta yang telah lama menerapkan sekolah sehari penuh itu antara lain sekolah-sekolah yang dikelola oleh Muhammadiyah, Cordova, Bunga Bangsa dan hampir semua sekolah yang dikelola oleh pondok pesantren.

Sedangkan untuk sekolah negeri, lanjutnya, memang belum dilakukan, namun dua pekan lalu ia mengaku telah meluncurkan lima sekolah di Kecamatan Sungai Kunjang untuk melaksanakan sekolah sehari penuh, bahkan sejumlah sekolah negeri lainnya juga sedang melakukan persiapan untuk menerapkannya.

Asli melanjutkan, full day school cocok diterapkan di Samarinda karena sebagian besar warganya bekerja sebagai pegawai baik pegawai negeri maupun swasta, sehingga jadwal pulangnya bersamaan dengan siswa pukul 16.00 Wita.

“Ketika orang tua pulang jam 4 sore, maka mereka bisa langsung jemput anak-anaknya di sekolah. Kalau orang tua yang kerjanya bukan sebagai pegawai, itu lain cerita, perbedaan ini jangan dipermasalahkan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, full day school selain bisa menjauhkan perbuatan siswa dari pergaulan bebas juga bisa menjadi wadah efektif untuk meningkatkan kecerdasan siswa baik secara akademis maupun kreativitas non akademik.

Misalnya, anak yang nilai akademiknya rendah, maka saat itu juga bisa dilakukan remedial, sedangkan siswa yang teridentifikasi memiliki bakat non akademik baik olah raga, seni maupun kepramukaan.

Dalam penerapan sekolah delapan jam, Asli mengaku tidak menginstruksikan apalagi mengharuskan sekolah sehari penuh, tetapi ia lebih melakukan pendekatan persuasif dengan memberikan pengertian mengenai hal-hal positif yang akan diperoleh ketika menerapkan full day school.

“Jadi tidak ada paksaan dalam penerapannya, sehingga bagi sekolah yang siap dan didukung dengan fasilitas sekolah, termasuk kesiapan para guru, kemudian kini telah ada beberapa sekolah yang siap menyusul menerapkan sekolah sehari penuh, sehingga siswa tidak dibebani PR dan di hari Sabtu siswa bisa libur,” jelasnya. @DF

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.