“Budi Euy” Hibur Ratusan  Anak-anak Rusunawa

Korantangerang.com – Ratusan anak-anak  yang tinggal di rumah susun sewa (Rusunawa) di Kelurahan Manis Jaya, Kecamata Jatiuwung, Kota Tangerang, dihibur dengan pertunjukan dongeng oleh pendongeng keliling Budi Euy.

 

 

 

Acara ini digagas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT)  di Aula Kelurahan Manis Jaya, Sabtu (10/2/2018) sekitar pukul 15.00 WIB. Mahasiswa dari berbagai jurusan dan fakultas itu sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah tersebut selama satu bulan.

 

 

 

Pantauan di lokasi pertunjukan dongeng, puluhan anak-anak yang tinggal di Rusunawa itu sudah berkumpul sejak pukul 14.00 WIB. Sejumlah anak saling bertanya kapan pendongengnya datang. Mereka tampak antusias ingin menyaksikan pertunjukan dongeng dari Budi Euy.

 

 

 

Ketika Budi Euy masuk ke dalam aula, anak-anak itu sudah siap. Mereka duduk rapi dan bersila membentuk huruf  “U”. Mereka juga menyambut kedatanagn Budi Euy dengan riuh. Mereka tersenyum dengan  wajah yang ceria.

 

 

 

Budi Euy membawakan dongeng berjudul “Raja Si Buruk Rupa” . Dalam dongeng itu, dikisahkan Raja sering beruat zolim kepada rakyatnya sendiri. Akibatnya, Raja dikutuk menjadi serigala oleh Makhluk Berjubah Putih.

 

 

 

Tak hanya itu, Raja juga diasingkan ke gunung dan diwajibkan bertapa selama 25 tahun di dalam gua serta menanam benih pohon nangka. Wujud Raja akan berubah kembali menjadi manusia  jika pohon nangka itu sudah tumbuh besar dan sudah berbuah.

 

 

 

Budi Euy membawakan dongeng itu dengan penuh ekspresif, enerjik, dan full power.  Pada saat mendongeng pun, Budi Euy menyisipkan nyanyian dan berbagai kata-kata atau kalimat-kalimat  yang mengandung humor, sehingga anak-anak tersenyum dan tertawa lepas .  Mereka betul-betul terhibur.

 

 

 

Usai pertunjukan dongeng, Ketua KKN Mahasiswa Muara Wisnu  mengatakan sengaja mendatangkan pendongeng  ke lokasi KKN. Tujuannya untuk menghibur dan membangun budaya literasi  di kalangan anak-anak rusunawa.

 

 

 

“Di negeri ini,  budaya dongeng sekarang sudah jarang  seiring dengan perkembangan zaman yang ‘menghamba’ pada teknologi. Padahal dongeng itu kaya dengan pesan-pesan moral. Mahasiswa punya kewajiban untuk menghidupkan kembali dongeng itu,” ucap mahasiswa jurusan Teknik Informastika ini.

 

 

 

Ahmad Figa Adiansyah, salah satu mahasiswa KKN, menambahkan anak-anak rusunawa sudah jarang mendengarkan dongeng.  Tentu saja banyak faktor. Salah satunya bisa jadi jumlah pendongengnya  juga langka.

 

 

 

“Kami mendatangkan pendongeng untuk menghibur anak-anak rusunawa, sekaligus memberikan pelajaran tanpa harus menggurui mereka,” ungkap mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia ini.

 

 

 

 

 

Sementara itu, Budi Euy yang juga sebagai seorang jurnalis ini, mengatakan dirinya terjun menjadi pendongeng keliling karena dongeng sebagai media dakwah yang paling ampuh dalam menyampaikan kebaikan serta membangun karakter dan kepribadian anak-anak.

 

 

 

“Anak-anak itu masih bersih. Mereka seperti kertas putih. Karena itu, mereka membutuhkan ‘asupan-asupan’ yang positif  dan kreatif seperti melalui pertunjukan dongeng. Itu penting agar mereka kelak memiliki integritas, semangat hidupnya tinggi, mentalnya kuat, imajinasinya berkembang, dan perilaku serta tutur katanya santun,” papar Budi Euy. (Mulyadi)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *