Berbagai Krisis Berpangkal pada Krisis Iman

Berbagai Krisis Berpangkal pada Krisis Iman

Krisis politik, masalah sosial, dan kemerosotan ekonomi yang belakangan ini mendera dunia, demikian James, berpangkal pada krisis iman. Ketika iman ditinggalkan, manusia mengalami kemerosotan moral. Manusia saling mencurigai, saling menipu, saling membenci, saling melecehkan, saling membunuh, dan tak lagi menghormati hak-hak dasar sesama. Aktivitas politik dan ekonomi tanpa moral, intoleransi, berbagai aksi penipuan dan aksi kekerasan, merupakan dampak dari krisis iman.

Krisis iman juga membuat kaum muda mengalami disorientasi. Mereka tidak lagi menerima eksistensi manusia yang hanya terdiri dari pria dan wanita. Cinta dan perkawinan sesama jenis adalah masalah kemanusiaan yang sangat serius. Kehadiran pendeta penting untuk meluruskan berbagai pandangan yang salah dari manusia.

Cinta Allah kepada manusia tak ternilai. Untuk membantu menùsia menggapai kebahagiaan, Tuhan melengkapi manusia dengan 200-300 talenta atau bakat. Setiap manusia mampu melakukan banyak aktivitas karena begitu bervarasinya talenta yang diberikan Tuhan. Tetapi, dari banyaknya talenta itu, hanya ada satu atau dua bakat yang paling menonjol. “Bakat menonjol itulah yang harus ditemukan dan dikembangkan lewat pendidikan dan latihan,” ujar James.

Selain pendeta, James memberikan apresiasi tinggi kepada siswa yang berita-cita menjadi guru. Mutu pendidikan tidak ditentukan oleh gedung sekolah yang mentereng dan fasilitas yang serbakomplet, melainkan visi pendidikan dan kualitas para guru. Guru yang baik tidak cukup hanya menguasai bidang ilmu yang menjadi mata pelajaran yang diajarkannya, melainkan juga berintegritas dan memiliki kualitas iman yang teruji.

Guru yang berintegritas terlihat dari kesehariannya dalam bertingkah laku dan menjalankan pekerjaan. Guru yang yang berintegritas bertingkah laku dan bekerja dengan dan penuh tanggung jawab. “Guru yang kami rekrut harus menjadi suri teladan,” ungkap James.

Menjadi pendeta dan guru, kata James, tidak cukup hanya bakat, tetapi juga panggilan. Para siswa mestinya diberikan suasana yang baik untuk merasakan panggilan dan mengembangkan bakatnya. “Kalau Tuhan sudah memanggil kita untuk menjadi pendeta, kita tak boleh menolak,” katanya. @SINTA

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.