Banten Sudah Memasuki Bonus Demografi

Korantangerang.com – Siti Masrifah, anggota Komisi IX DPR RI Dapil Banten III, mengatakan saat ini Banten sudah memasuki fase bonus demografi, pasalnya dari 12,4 juta penduduk Banten di tahun 2017, 68,53% adalah penduduk di median usia 15-64 tahun atau usia produktif.

 

“Artinya, jumlah usia produktif lebih banyak dibandingkan yang tidak produktif,” ujarnya kepada awak media usai menjadi narasumber sosialisasi Integrasi Kampung Keluarga Berencana (KB) yang dihelat Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Kelurahan Pondok Kacang Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangsel, Sabtu (23/12).

 

Indonesia, lanjut sosok yang akrab disapa mbak Chifa itu, secara nasional, Indonesia diperkirakan mencapai puncak bonus demografi pada 2017 sampai 2019 untuk gelombang pertama dan 2020 sampai 2030 pada gelombang kedua. Bonus demografi itu semestinya menjadi berkah bagi provinsi dengan jumlah penduduk terpadat kelima di Indonesia ini.

 

“Hal ini menjadi tantangan bagi Pemprov Banten, agar bonus demografi menjadi modal dasar dalam membangun Banten, bukan sebaliknya,” tambahnya.

 

Ia menjelaskan, berdasarkan data statistik struktur penduduk Banten yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, Pada tahun 2013, angka beban ketergantungan Banten masih sebesar 47,08. Berarti, setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung antara 47 sampai 48 orang penduduk usia tidak produktif. Sementara pada tahun 2017, beban yang ditanggung sedikit mengalami penurunan, sehingga yang ditanggung hanya 46 orang penduduk usia tidak produktif.

 

“Hal ini harus menjadi perhatian serius Pemprov Banten dalam proses perencanaan kebijakan pembangunan, karena kalau tidak, akan muncul berbagai masalah sosial dan ekonomi,” tambahnya.

 

Politisi perempuan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengimbau para pemangku kepentingan di Banten untuk terus menggencarkan program keluarga berencana (KB), karena selain untuk menekan laju pertumbuhan penduduk Banten yang masih tinggi, juga untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

 

“Kalau tidak ditopang dengan kualitas SDM yang baik, bonus demografi hanya akan menimbulkan banyak masalah,” tegasnya.

 

Untuk itu, ia mendorong tersedianya berbagai sarana dan prasarana perumahan, pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum, serta penyediaan lapangan kerja untuk menyerap kelompok usia produktif yang tinggi tersebut.

 

Ia juga mengingatkan, setelah fase bonus demografi, penuaan penduduk akan menjadi isu penting di Banten, yaitu fenomena ketika proporsi penduduk usia 65 tahun keatas meningkat akibat naiknya angka harapan hidup dan atau menurunnya tingkat kelahiran (fertilitas).

 

Banten, kata dia diproyeksikan akan mulai memasuki era penuaan penduduk antara tahun 2030 sampai 2035,  Hal ini berdampak pada keharusan untuk menyediakan berbagai fasiltas pendukung dan peningkatan cakupan jaminan hari tua bagi penduduk lanjut usia ini.

 

“Segalanya harus sudah masuk dalam perencanaan pembangunan, agar tidak timbul masalah pelik dikemudian hari,” tukasnya.(Mulyadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *