Banggalah Berkarya di Usia Muda!

1529486shutterstock-230258842780x390Tiap pagi kawasan Jalan Dago Pojok, Bandung, terasa sesak. Meski bukan jalan raya, jalur tersebut menjadi tempat lalu-lalang beragam alat transportasi yang jalan tersendat-sendat lantaran macet.

Memang, sejak dulu Dago Pojok menjadi jalan alternatif para pengendara. Sasaran mereka adalah sekolah dan kantor yang jaraknya lebih cepat ditempuh lewat gang sempit itu.

Nirwan adalah satu dari pengendara motor yang kerap menyambangi jalan tersebut. Dia harus rela berjejal di Dago Pojok untuk mencapai sekolahnya di SMAN 19. Letaknya, kurang lebih 300 meter dari jalan utama.

Secara normal, jauhnya jarak itu hanya memakan waktu dua menit bila berkendara atau lima sampai tujuh menit jika berjalan kaki. Masalahnya, kondisi macet membuat waktu tempuh menjadi lebih lama lagi.

Makin lama volume kendaraan roda dua terus bertambah, terutama karena banyak siswa mengendarai motor. Akibatnya, bukan hanya rugi waktu, tapi lahan parkir juga semakin sempit.

Mengurai kemacetan

Konsep serupa sebenarnya telah dilakoni oleh komunitas Nebengers di Ibukota. Beberapa orang pemuda menggagasnya dengan pertimbangan kondisi lalu-lintas Jakarta.

Dilansir dari KOMPAS.com, prediksi Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) memaparkan bahwa kerugian ekonomi akibat kemacetan di DKI Jakarta periode 2002-2020 akan mencapai Rp 65 triliun. Angka kerugian itu didapat dengan cara menghitung kerugian karena aktivitas ekonomi yang terhambat atau bahkan lumpuh akibat kemacetan di Jakarta

Cara kerja komunitas ini ialah berbagi tumpangan dengan anggota komunitas saat memiliki rute perjalanan searah. Calon penumpang dan pemberi tumpangan harus melakukan registrasi sebelum berinteraksi.

Lewat komunitas itu, mereka diwadahi untuk berbagi informasi siapa saja yang butuh tumpangan serta pengendara baik hati yang rela memberi tumpangan. Imbalannya sukarela, dapat berupa bensin, uang tol atau bergantian mengemudi.

Gerakan yang digagas ini menghasilkan tiga dampak positif langsung. Secara sosial, meningkatkan interaksi antar masyarakat. Secara lingkungan, dapat mengurangi polusi dan tingkat kemacetan. Sedangkan secara ekonomi, gerakan tersebut dapat menekan pengeluaran masyarakat.

Beberapa manfaat ini juga yang tengah dirasakan Nirwan dan siswa lainnya saat “Babarengan 19” mulai digalakkan di sekolahnya.

“Khusus dalam lingkup SMAN 19, konsep ini meningkatkan interaksi antar siswa, misalnya kakak kelas dan adik kelas sehingga stigma senioritas pun hilang. Selain itu, cara ini dapat mengurangi angka kecelakaan lalu lintas dan menekan ongkos ke sekolah,” kata Nirwan. (Efa)